Minggu, 10 Januari 2027
Langit yang Terkoyak
Hujan pertama setelah kemarau panjang selalu punya upacara sendiri. Petani keluar rumah menengadah, anak-anak berlarian, dan tanah kering mengeluarkan bau khas yang tidak bisa ditiru pabrik parfum mana pun. Air turun, dan segalanya mulai hidup lagi.
Yesaya memakai gambar itu untuk firman Allah: "Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, demikianlah firman-Ku." Firman tidak pernah turun sia-sia. Ia selalu mengerjakan sesuatu, seperti hujan yang tidak pernah gagal membasahi.
Bacaan pertama bahkan dibuka dengan undangan yang aneh untuk pasar mana pun: "Hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli." Rahmat memang satu-satunya barang yang hanya bisa diterima, tidak bisa dibeli.
Hari ini masa Natal ditutup dengan peristiwa di sungai Yordan. Markus melukiskannya dengan kata yang keras: ketika Yesus keluar dari air, langit "terkoyak". Bukan sekadar terbuka, seperti pintu yang bisa ditutup kembali. Terkoyak, seperti kain yang robek dan tidak bisa dirapatkan lagi. Sejak saat itu langit dan bumi tidak lagi terpisah rapi. Allah sudah turun tangan, dan Ia tidak berniat menarik tangan-Nya kembali.
Lalu terdengar suara: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan." Perhatikan waktunya. Yesus belum berkhotbah sekali pun. Belum menyembuhkan siapa-siapa, belum membuat satu mukjizat. Kasih Bapa diucapkan sebelum semua karya. Identitas datang lebih dulu daripada prestasi.
Ini kabar yang sangat kita perlukan. Dunia membiasakan kita pada urutan sebaliknya: berprestasilah dulu, baru engkau berharga. Di sungai Yordan urutannya dibalik: engkau dikasihi dulu, maka engkau sanggup berkarya. Surat Yohanes hari ini menyebut iman semacam itu sebagai kemenangan yang mengalahkan dunia.
Kita pun sudah dibaptis. Entah sebagai bayi yang menangis atau orang dewasa yang gemetar, atas kita pernah diucapkan kalimat yang sama: anak yang dikasihi. Sayang, kalimat itu sering tenggelam oleh suara-suara lain: engkau kurang, engkau gagal, engkau terlambat.
Besok kita masuk Masa Biasa. Hari-hari kerja, jalanan macet, cucian menumpuk. Bekal terbaik untuk memasukinya bukan resolusi baru, melainkan satu kalimat dari langit yang terkoyak itu. Kalimat itu masih berlaku. Ia tidak pernah dicabut. Dan cukup satu kalimat itu untuk membuat hari-hari biasa tidak pernah lagi sungguh biasa.
Bapa, di tengah segala suara yang menilai aku, biarlah suara-Mu yang paling nyaring kudengar: anak-Ku yang Kukasihi. Amin.