‹ Semua renungan

Selasa, 27 Oktober 2026

Sejumput Ragi

Di dapur, ragi hampir tidak kelihatan. Sejumput saja, kalah jauh dibanding gundukan tepung. Tetapi pembuat roti tahu: tanpa sejumput itu, adonan sebesar apa pun tetap bantat. Dengan sejumput itu, seluruh adonan mengembang.

Kemarin kita melihat Yesus menegakkan perempuan yang delapan belas tahun bungkuk, dan semua orang bersukacita. Hari ini, masih di tengah sukacita itu, Ia bertanya seperti sedang berpikir keras: seumpama apakah hal Kerajaan Allah? Jawaban-Nya bukan istana atau pasukan. Ia memilih biji sesawi dan ragi. Dua benda paling remeh di kebun dan di dapur.

Biji sesawi yang kecil itu tumbuh menjadi pohon tempat burung-burung bersarang. Ragi yang diadukkan seorang perempuan ke dalam tiga sukat tepung mengkhamirkan seluruhnya. Keduanya bekerja dengan cara yang sama: mulai kecil, tersembunyi, dan tidak bisa dihentikan.

Kerajaan Allah memang jarang datang lewat peristiwa gempar. Ia datang lewat yang kecil-kecil: satu pengampunan dalam keluarga, satu kebiasaan doa yang dijaga, satu orang yang tetap jujur di lingkungan yang tidak jujur. Dari luar tampak tidak berarti. Tetapi ia meragikan diam-diam.

Maka jangan berkecil hati kalau peran kita kecil. Ragi tidak pernah besar. Ia hanya perlu masuk ke dalam adonan.

Tuhan, jadikan aku ragi-Mu: kecil tidak mengapa, asal mengkhamirkan sekelilingku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →