Jumat, 23 Oktober 2026
Membaca Langit
Petani tua jarang salah membaca langit. Melihat awan menggantung di barat, ia tahu hujan akan turun. Merasakan angin kering dari selatan, ia tahu hari akan panas terik. Tidak pakai alat, hanya pengalaman puluhan tahun memperhatikan.
Yesus mengakui keahlian itu pada para pendengar-Nya: rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya. Lalu datang sindiran-Nya: mengapa kamu tidak dapat menilai zaman ini? Mereka jeli membaca cuaca, tetapi buta membaca kehadiran Allah yang sedang berdiri di depan mereka.
Kita pun begitu. Untuk urusan dunia, penciuman kita tajam. Harga akan naik, kita sudah bersiap. Ada peluang usaha, kita cepat membaca gelagat. Tetapi tanda-tanda dari Allah sering lewat tanpa terbaca: teguran halus lewat peristiwa, sapaan lewat orang yang dikirim-Nya, kesempatan bertobat yang muncul berulang-ulang.
Yesus menutup dengan nasihat yang mendesak: kalau engkau menuju pengadilan bersama lawanmu, berdamailah selama masih di tengah jalan. Jangan tunggu palu hakim. Masih di jalan artinya masih ada waktu, tetapi waktu itu terus bergerak.
Hari ini pun langit rohani kita penuh tanda. Ada hubungan yang menunggu didamaikan, ada ajakan Allah yang belum dijawab. Petani saja tahu kapan harus menanam. Masakan kita tidak tahu kapan harus berbenah?
Tuhan, berilah aku mata yang awas membaca sapaan-Mu, selama aku masih di tengah jalan. Amin.