‹ Semua renungan

Kamis, 22 Oktober 2026

Api di Bumi

Api itu netral menunggu tuannya. Di dapur ia mematangkan makanan, di tungku ia menghangatkan rumah, tetapi ia juga bisa membakar habis. Satu hal yang pasti: di mana ada api, tidak ada yang tetap sama.

Hari ini Yesus berkata dengan nada rindu: Aku datang untuk melemparkan api ke bumi, dan betapa Kuharapkan api itu telah menyala! Lalu kalimat yang mengagetkan: Aku datang bukan membawa damai, melainkan pertentangan. Bagaimana mungkin Raja Damai berkata begitu?

Karena damai yang dibawa-Nya bukan damai yang malas, yang membiarkan semuanya seperti semula asal tidak ribut. Injil itu api. Ia membakar kebiasaan lama, membongkar kenyamanan, memaksa orang memilih. Maka dalam satu rumah pun bisa terjadi tiga melawan dua. Bukan karena Yesus senang keluarga pecah, tetapi karena mengikuti Dia adalah keputusan yang tidak bisa diwakilkan.

Santo Yohanes Paulus II, yang kita kenang hari ini, membuka masa kepausannya dengan seruan yang berkobar: jangan takut, bukalah pintu lebar-lebar bagi Kristus! Ia tahu harga seruan itu; peluru pun pernah menembus tubuhnya. Api itu tetap menyala sampai tubuhnya sendiri rapuh.

Iman yang tidak pernah menghangatkan siapa-siapa patut dicurigai: jangan-jangan apinya sudah lama padam.

Tuhan, nyalakan kembali api-Mu dalam diriku, dan jangan biarkan aku memadamkannya demi rasa aman. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →