Rabu, 14 Oktober 2026
Musim Buah
Pohon mangga di halaman tidak pernah gembar-gembor. Ia tidak memasang pengumuman bahwa dirinya pohon mangga. Ia cukup berbuah mangga, dan semua orang tahu. Pohon dikenal dari buahnya, bukan dari papan namanya.
Paulus hari ini menyodorkan dua daftar. Perbuatan daging: perseteruan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, dan kawan-kawannya. Lalu buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Menarik, yang pertama disebut perbuatan, yang kedua disebut buah. Perbuatan bisa dibuat-buat. Buah tidak. Buah hanya tumbuh dari pohon yang akarnya sehat.
Itulah yang hilang dari orang-orang Farisi yang kemarin dan hari ini ditegur Yesus. Persepuluhan mereka teliti sampai ke selasih dan inggu, sayuran dapur yang nilainya tak seberapa. Tetapi keadilan dan kasih Allah mereka abaikan. Ranting dihitung, akar dibiarkan kering.
Ukuran hidup rohani kita bukan banyaknya kegiatan keagamaan yang bisa dicatat. Ukurannya buah. Apakah orang serumah merasakan kesabaran kita? Apakah rekan kerja mencicipi kemurahan kita? Kalau yang matang justru iri dan amarah, akarnya yang perlu diperiksa.
Roh sudah ditanam dalam diri kita sejak baptisan. Musim buahnya adalah hari ini.
Roh Kudus, akarkanlah hidupku dalam Engkau, supaya buah yang kuhasilkan tidak palsu. Amin.