Kamis, 8 Oktober 2026
Mengetok Tengah Malam
Bertamu tengah malam itu melanggar sopan santun di mana-mana. Apalagi datang untuk meminjam makanan. Pintu sudah dikunci, lampu sudah padam, anak-anak sudah tidur. Orang waras akan menunggu pagi.
Justru gambar senekat itu yang dipakai Yesus untuk bicara tentang doa. Kemarin Ia mengajarkan kata-katanya, Bapa Kami. Hari ini Ia mengajarkan sikapnya: mengetok seperti orang yang tidak tahu malu. Sahabat di dalam rumah mungkin enggan bangun demi persahabatan, tetapi karena ketokan yang tidak berhenti itu, ia akan bangun juga.
Apakah Allah perlu didesak seperti tetangga yang mengantuk? Tentu tidak. Yesus sedang memakai perbandingan dari kecil ke besar: kalau tetangga yang terganggu saja akhirnya memberi, apalagi Bapa. Kalau bapak yang jahat saja tahu memberi ikan dan bukan ular kepada anaknya, apalagi Bapa yang di sorga.
Yang sering jadi soal bukan kesediaan Allah, tetapi napas kita yang pendek. Berdoa dua tiga kali, sepi, lalu berhenti. Padahal mintalah, carilah, ketoklah, semuanya kata kerja yang terus-menerus.
Dan perhatikan janji di ujungnya: Ia akan memberikan Roh Kudus. Pemberian terbaik kadang bukan yang kita minta, melainkan Pemberi itu sendiri.
Bapa, ajarilah aku mengetok tanpa jemu, dan percaya bahwa Engkau mendengar. Amin.