Sabtu, 22 Agustus 2026
Ratu yang Menyebut Diri Hamba
Di acara resmi mana pun, kursi adalah bahasa. Deret depan untuk pejabat, ada namanya, ada kainnya. Makin penting seseorang, makin depan duduknya. Tanpa sadar kita belajar: kehormatan itu soal posisi.
Kemarin Yesus merangkum seluruh hukum dalam kasih. Hari ini Ia menunjuk orang-orang yang hafal hukum itu tetapi gagal mengasihi. Ahli Taurat dan orang Farisi suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan, di tempat terdepan di rumah ibadat, suka dipanggil Rabi. Ajarannya benar, kata Yesus, turutilah. Tapi jangan turuti perbuatannya. Mereka mengikat beban berat untuk bahu orang lain, sementara jari mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.
Lalu Yesus membalik aturan kursi: barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan yang merendahkan diri akan ditinggikan.
Hari ini Gereja memperingati Santa Perawan Maria Ratu. Menarik sekali: satu-satunya manusia yang digelari ratu surga adalah perempuan yang menyebut dirinya hamba Tuhan. Ia tidak pernah berebut kursi. Kursinya disediakan Allah sendiri.
Kehormatan sejati memang tidak pernah direbut. Ia dianugerahkan kepada mereka yang sibuk melayani sampai lupa memikirkan tempat duduk.
Di rumah, di kantor, di gereja: kursi mana yang diam-diam sedang kita incar?
Tuhan, bebaskan aku dari lapar hormat. Ajari aku duduk di kursi pelayan, seperti Maria, hamba-Mu. Amin.