‹ Semua renungan

Jumat, 21 Agustus 2026

Hujan Pertama

Puncak kemarau selalu tampak seperti kematian. Sawah retak-retak, rumput cokelat, sumur menyusut. Lalu hujan pertama jatuh. Hanya dalam hitungan hari, yang cokelat berubah hijau. Ternyata tanah itu tidak mati. Ia hanya menunggu air.

Kemarin kita mendengar janji Tuhan tentang hati yang baru. Hari ini janji itu diberi gambar yang tak terlupakan. Yehezkiel dibawa ke lembah penuh tulang, dan tulang-tulang itu amat kering. Pertanyaan Tuhan terdengar mustahil: dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali? Yehezkiel menjawab hati-hati: Engkaulah yang mengetahui. Lalu firman dinubuatkan, dan terdengar suara berderak-derak: tulang bertemu tulang, urat tumbuh, daging menutup, nafas hidup masuk. Berdirilah suatu pasukan yang sangat besar.

Tulang-tulang itu, kata Tuhan, adalah umat yang kehilangan harapan: pengharapan kami sudah lenyap, kami sudah hilang. Pernahkah kita berkata begitu? Tentang diri sendiri, tentang keluarga, tentang negeri ini? Bacaan hari ini menolak kata tamat. Tidak ada yang terlalu kering bagi Roh Allah.

Injil menyebut sumber airnya: kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu, dan sesamamu seperti dirimu sendiri. Kasih itulah hujan pertama bagi jiwa yang kerontang. Santo Pius X merangkumnya dalam semboyan hidupnya: memulihkan segala sesuatu dalam Kristus.

Tuhan, hembuskanlah Roh-Mu ke bagian hidupku yang paling kering. Aku percaya, Engkau sanggup. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →