Rabu, 19 Agustus 2026
Sedinar untuk Semua
Di pasar dan di proyek bangunan, kuli harian menunggu sejak pagi. Yang dipanggil kerja pulang membawa upah. Yang tidak dipanggil pulang membawa cemas: besok anak-anak makan apa?
Kemarin Yesus menutup pengajaran-Nya dengan kalimat misterius: banyak yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. Hari ini Ia menjelaskannya lewat cerita. Tuan kebun anggur mengupah pekerja sejak pagi, lalu keluar lagi pukul sembilan, dua belas, tiga, bahkan pukul lima sore. Ketika upah dibagikan, semua menerima sedinar. Yang bekerja sejak subuh protes: kami sehari suntuk menanggung panas terik, kok disamakan?
Protes itu terasa masuk akal. Tapi dengarkan jawaban tuan itu: bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Iri hatikah engkau karena aku murah hati? Tidak ada yang dirugikan di sini. Yang pagi menerima keadilan. Yang sore menerima kemurahan. Sedinar adalah nafkah hidup sehari; tuan itu tidak tega ada keluarga yang pulang tanpa makan malam, meski tenaganya hanya terpakai sejam.
Masalah kita sering bukan kekurangan, melainkan perbandingan. Rezeki sendiri terasa cukup, sampai kita mengintip rezeki tetangga. Orang Jawa punya obatnya: nrimo ing pandum, menerima bagian dengan hati lapang, tanpa berhenti bekerja.
Hari ini, maukah kita bersyukur atas sedinar kita tanpa sibuk menghitung sedinar orang lain?
Tuhan, sembuhkan aku dari iri hati, dan buat aku ikut bersukacita atas kemurahan-Mu bagi siapa pun. Amin.