Senin, 17 Agustus 2026
Mahardhika
Setiap 17 Agustus, lapangan-lapangan di seluruh negeri dipenuhi upacara. Bendera naik perlahan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan untuk beberapa menit kita semua menengadah ke satu arah yang sama. Delapan puluh satu tahun sudah kita merdeka.
Kata merdeka sendiri menyimpan kedalaman. Ia diserap dari bahasa Sanskerta, mahardhika, yang artinya bukan sekadar bebas, melainkan orang yang bijaksana dan kaya batinnya. Merdeka, dalam akar katanya, bukan hanya lepas dari penjajah. Merdeka adalah mutu jiwa.
Justru di situ Injil hari ini menohok. Seorang muda datang kepada Yesus. Hidupnya nyaris sempurna: muda, kaya, saleh, semua perintah sudah diturutinya sejak kecil. Negara mana pun akan bangga punya warga seperti dia. Tapi ketika Yesus berkata, 'Juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang miskin, kemudian ikutlah Aku,' ia pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Kalimat itu pelan tapi telak: ternyata bukan ia yang memiliki harta, melainkan harta yang memiliki dia. Ia warga yang merdeka di atas kertas, tetapi terjajah di dalam hati.
Bacaan pertama lebih keras lagi. Yehezkiel kehilangan istrinya, kesayangan matanya, dan diminta menanggungnya demi menjadi tanda bagi umat. Kita boleh membacanya sambil mengenang para pendiri bangsa: kemerdekaan yang kita nikmati hari ini dibayar dengan kehilangan yang sangat pribadi. Ada yang kehilangan pasangan, anak, tanah, masa muda. Tidak ada kemerdekaan yang lahir tanpa orang yang rela kehilangan.
Maka pertanyaan hari ini bukan hanya: apakah Indonesia sudah merdeka? Melainkan: apakah orang-orang Indonesia sudah mahardhika? Sebuah bangsa bisa terjajah lagi tanpa satu pun tentara asing masuk: oleh korupsi yang menjadikan jabatan sebagai harta pribadi, oleh ketakutan berkata benar, oleh kerakusan yang membuat kita pergi dengan sedih setiap kali diminta berbagi.
Iman dan kebangsaan bertemu di titik ini. Mencintai tanah air bukan sekadar mengibarkan bendera, melainkan meneruskan kerelaan para pahlawan: melepaskan sesuatu yang kita cintai demi kebaikan yang lebih besar. Yang satu melepas harta bagi orang miskin, yang lain melepas gengsi demi kerukunan, yang lain lagi melepas kenyamanan untuk melayani.
Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga kita bukan hanya penduduk negeri yang merdeka, melainkan sungguh manusia-manusia yang mahardhika.
Tuhan, terima kasih untuk tanah air kami. Merdekakanlah hati kami dari segala yang membelenggu, agar bangsa ini sungguh bebas, adil, dan bermartabat. Amin.