Jumat, 14 Agustus 2026
Kasih yang Memungut
Kisah bayi dibuang selalu menghentikan kita. Ditemukan di tepi jalan, masih merah, menangis. Lalu ada keluarga yang memungutnya, memandikannya, memberinya nama, membesarkannya seperti anak sendiri. Kasih semacam itu tidak bertanya soal asal-usul.
Yehezkiel hari ini melukis Israel persis seperti itu: bayi yang dibuang ke ladang, tidak dibasuh, tidak dibedungi, dipandang enteng pada hari lahirnya. Lalu Allah lewat dan berkata kepada bayi berlumur darah itu: engkau harus hidup. Ia memungutnya, membesarkannya, mendandaninya seperti ratu. Tragisnya, setelah cantik dan termasyhur, ia mengkhianati kasih itu. Namun bahkan setelah semua kekejian itu, Allah menutup dengan janji: Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau dan meneguhkan perjanjian yang kekal.
Kemarin kita belajar mengampuni tanpa batas. Hari ini kita melihat sumbernya: kesetiaan Allah yang tidak dibatalkan oleh pengkhianatan. Maka ketika ditanya soal perceraian, Yesus menunjuk ke rancangan awal: apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Kesetiaan kita diminta memantulkan kesetiaan-Nya.
Santo Maksimilianus Kolbe memantulkannya sampai ujung. Di Auschwitz ia maju menggantikan seorang ayah keluarga yang divonis mati kelaparan. Kasih yang menebus nyawa orang lain dengan nyawanya sendiri.
Tuhan, Engkau tetap setia ketika aku tidak setia. Jadikan kasihku tahan uji seperti kasih-Mu. Amin.