Rabu, 12 Agustus 2026
Empat Mata Dulu
Ada kebiasaan aneh yang kita pelihara rapi. Kalau seseorang bersalah kepada kita, kesalahannya kita ceritakan ke mana-mana: ke teman, ke saudara, ke grup percakapan. Satu-satunya orang yang tidak pernah kita ajak bicara justru orangnya sendiri.
Kemarin Yesus bercerita tentang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan domba demi mencari satu yang sesat. Hari ini Ia mengajarkan caranya mencari: 'Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.' Empat mata dulu. Bukan empat puluh mata. Tujuannya pun jelas: 'engkau telah mendapatnya kembali.' Mendapat kembali, bukan mempermalukan.
Menegur di belakang itu mudah, dan diam-diam terasa nikmat. Menegur di depan, empat mata, dengan niat memulihkan, itu berat. Perlu kasih yang sungguh, sebab kita mempertaruhkan kenyamanan hubungan demi keselamatan saudara.
Yehezkiel dalam bacaan pertama melihat orang-orang yang berkeluh kesah atas kejahatan kota diberi tanda di dahi dan diselamatkan. Ternyata sejak dulu Allah menandai orang yang hatinya terluka melihat dosa, tetapi tidak menjadikannya bahan tontonan.
Adakah nama yang selama ini kita gunjingkan, padahal seharusnya kita datangi baik-baik? Mungkin hari ini saat yang tepat untuk mengetuk pintunya, berdua saja, dengan hati yang ingin memulihkan.
Tuhan, beri aku keberanian untuk berbicara kepada saudaraku, bukan tentang saudaraku. Amin.