Minggu, 2 Agustus 2026
Hajatan Allah
Di kampung, hajatan punya hukum yang aneh menurut ilmu ekonomi. Tuan rumah justru rela rugi besar-besaran. Semua tamu makan sampai kenyang. Pulangnya masih dibawakan bungkusan nasi yang di banyak tempat disebut berkat. Kata itu serapan dari barakah: berkah, kelimpahan yang turun bukan karena kita membayar.
Minggu lalu kita mendengar perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang layak ditukar dengan segalanya. Minggu ini kita diperlihatkan siapa pemilik harta itu, dan bagaimana cara-Nya menjamu.
Yesaya bicara seperti pedagang yang pasti bangkrut kalau dituruti: 'Hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli, anggur dan susu tanpa bayaran!' Lalu pertanyaannya menusuk: mengapa kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk yang tidak mengenyangkan? Pertanyaan itu masih hidup sampai sekarang. Coba periksa catatan belanja sebulan terakhir. Berapa banyak yang kita beli demi mengisi hati, dan hati itu tetap saja lapar?
Injil menunjukkan nubuat Yesaya digenapi di padang. Lima ribu laki-laki, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Bekalnya lima roti dan dua ikan. Murid-murid berpikir seperti panitia: suruh mereka pergi, biar beli makan sendiri-sendiri. Yesus berpikir seperti tuan rumah hajatan: tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan. Dan semua makan sampai kenyang. Sisanya dua belas bakul penuh. Allah bukan hanya cukup. Allah selalu berlebih.
Paulus menutup dengan pertanyaan yang berani: siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan? Kelaparan? Pedang? Ia mendaftar semua yang paling menakutkan, lalu menjawabnya sendiri: tidak ada satu pun. Kasih yang menjamu lima ribu orang di padang bukan kasih yang gampang putus di tengah jalan.
Kita sering hidup dengan logika kelangkaan. Takut kurang, takut kehabisan, takut tersaingi. Maka kita menggenggam erat-erat. Iman menawarkan logika lain: logika berkat. Yang dibagikan justru dilipatgandakan; yang digenggam justru membusuk di tangan. Lima roti di tangan anak kecil tetaplah lima roti. Lima roti yang diserahkan ke tangan Yesus menjadi jamuan untuk ribuan orang. Bukan jumlahnya yang menentukan, melainkan ke tangan siapa ia diserahkan.
Pekan ini, cobalah satu hal kecil: memberi tanpa menghitung kembalian. Sepiring makanan, waktu satu jam, kesabaran mendengarkan. Lalu perhatikan baik-baik: apakah kita jadi kekurangan, atau justru merasa lebih kaya?
Tuhan, Engkau menjamu tanpa memungut bayaran. Lepaskan genggamanku yang takut kurang, dan jadikan tanganku pembagi berkat-Mu. Amin.