‹ Semua renungan

Minggu, 28 Juni 2026

Kamar Atas di Sunem

Di rumah-rumah orang tua kita dulu hampir selalu ada kamar yang dibiarkan kosong. Kamar tamu. Kasurnya paling bagus, spreinya paling bersih, padahal belum tentu sebulan sekali dipakai. Kamar itu adalah pernyataan diam-diam: rumah ini terbuka, siapa pun boleh singgah.

Bacaan pertama hari ini bercerita tentang kamar semacam itu. Perempuan Sunem memperhatikan Elisa yang sering lewat, lalu berkata kepada suaminya: baiklah kita membuat kamar atas yang kecil, menaruh tempat tidur, meja, kursi dan kandil, supaya abdi Allah itu boleh singgah. Sederhana sekali daftarnya. Tapi dari kamar kecil itu lahirlah mukjizat: perempuan yang tidak beranak itu dijanjikan menggendong bayi tahun depan.

Ia tidak pernah meminta upah. Ia menyambut bukan karena berharap sesuatu, melainkan karena mengenali: orang yang lewat ini abdi Allah. Dan justru itulah yang dijanjikan Yesus dalam Injil: barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi. Bahkan air sejuk secangkir yang diberikan kepada seorang yang kecil, kata-Nya, tidak akan kehilangan upahnya.

Injil hari ini memang keras di bagian awal: barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; barangsiapa tidak memikul salibnya, ia tidak layak bagi-Ku. Lalu tiba-tiba melunak menjadi soal menyambut dan secangkir air. Apa hubungannya? Mungkin ini: mengikut Yesus tidak selalu berarti berangkat jauh meninggalkan segalanya. Bagi sebagian orang, salibnya justru berbentuk pintu rumah yang dibuka. Menyambut itu ada harganya: ketenangan berkurang, beras berkurang, kadang nama ikut dipertaruhkan.

Paulus dalam bacaan kedua mengingatkan dasar semuanya: kita yang dibaptis telah dikuburkan bersama Kristus dan bangkit dalam hidup yang baru. Hidup baru itu tampak bukan pertama-tama dalam hal-hal besar, melainkan dalam kebiasaan kecil yang berubah: rumah yang dulu tertutup menjadi terbuka, meja yang dulu untuk keluarga sendiri kini ada piring lebihnya.

Menyambut kamu, kata Yesus, berarti menyambut Aku. Kalimat itu mengubah setiap tamu menjadi kemungkinan perjumpaan dengan Tuhan. Perempuan Sunem menyiapkan kamar untuk Elisa dan menerima kehidupan. Siapa tahu, tamu yang selama ini kita anggap merepotkan justru sedang membawa berkat yang belum kelihatan.

Kamar mana dalam hidup kita yang masih terkunci bagi orang lain?

Tuhan Yesus, Engkau datang lewat orang-orang yang singgah. Buatlah hatiku seperti kamar atas di Sunem: kecil, sederhana, tetapi selalu siap bagi-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →