‹ Semua renungan

Selasa, 23 Juni 2026

Surat yang Dibentangkan

Ada surat-surat yang membuat tangan dingin saat membukanya. Surat tagihan, panggilan dari kantor, hasil laboratorium. Selembar kertas bisa terasa lebih berat dari sekarung beras.

Raja Hizkia menerima surat semacam itu. Isinya ancaman dari Sanherib, raja Asyur yang sudah menumpas negeri-negeri lain: jangan harap Allahmu sanggup menyelamatkan Yerusalem. Di atas kertas, ancaman itu masuk akal. Asyur adalah kekuatan terbesar zamannya.

Yang dilakukan Hizkia kemudian layak kita tiru. Ia tidak membakar surat itu, tidak pura-pura tidak membacanya, tidak pula membalasnya dengan gertakan. Ia naik ke rumah TUHAN dan membentangkan surat itu di hadapan TUHAN. Seolah berkata: ini, Tuhan, bacalah sendiri. Lalu ia berdoa, dan malam itu juga Tuhan bertindak. Yerusalem selamat.

Membentangkan. Kata itu indah sekali sebagai gambaran doa. Bukan melipat masalah rapat-rapat di dada, bukan menceritakannya ke mana-mana kecuali kepada Tuhan, melainkan membukanya lebar-lebar di hadapan-Nya. Persoalan yang dibentangkan tidak otomatis lenyap, tapi ia berpindah meja: dari meja kita yang sempit ke meja Allah yang tak terbatas.

Surat apa yang sedang kita genggam ketat-ketat hari ini? Diagnosa, utang, kabar buruk tentang anak?

Tuhan, hari ini kubentangkan suratku yang paling berat di hadapan-Mu. Bacalah, dan bertindaklah menurut kasih-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →