‹ Semua renungan

Senin, 15 Juni 2026

Sejari Tanah Nabot

Di banyak kampung, tanah warisan bukan sekadar harta. Ia amanat. Orang Jawa punya ungkapan keras untuk itu: sadumuk bathuk sanyari bumi, dibela sampai mati. Sejari tanah pun tidak boleh dilepas begitu saja.

Nabot memegang prinsip itu. Ketika raja Ahab meminta kebun anggurnya, dengan tawaran ganti yang lebih baik atau uang tunai, Nabot menolak: kiranya TUHAN menghindarkan aku dari menyerahkan milik pusaka nenek moyangku. Bagi Nabot, tanah itu titipan Tuhan lewat leluhur, bukan barang dagangan.

Lalu bergulirlah kejahatan yang rapi. Ahab merajuk di tempat tidur. Izebel, istrinya, mengambil alih: surat palsu atas nama raja, saksi dursila yang disewa, pengadilan yang direkayasa, lengkap dengan bungkus agama, sebab semuanya dibuka dengan maklumat puasa. Nabot dilempari batu sampai mati. Ahab tinggal turun dan mengambil kebunnya.

Kisah ini ribuan tahun umurnya, tapi terasa seperti berita kemarin sore. Yang kuat merampas milik yang lemah, dan hukum dipakai sebagai alatnya. Injil hari ini seolah memotret Nabot: orang yang ditampar dan tidak membalas, yang jubahnya diambil orang.

Tapi ceritanya belum selesai. Besok kita akan mendengar bahwa ada Mata yang melihat semuanya.

Pernahkah kita diam saja ketika yang lemah dirampas haknya di depan mata kita?

Tuhan, belalah mereka yang hari ini menjadi Nabot. Dan jauhkanlah aku dari menjadi Ahab, sekecil apa pun bentuknya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →