Rabu, 3 Juni 2026
Meniup Bara
Ibu-ibu yang masih memasak dengan arang tahu rahasianya. Bara yang hampir padam jangan dibiarkan. Ia harus ditiup. Pelan, sabar, terarah. Abu beterbangan, mata pedih, tapi sesudah itu nyala kembali hidup.
Paulus menulis kepada Timotius dengan gambar yang mirip: kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu. Karunia rupanya seperti bara. Ia bisa meredup kalau dibiarkan. Bukan karena Allah menariknya, melainkan karena kita berhenti meniupnya. Dan Paulus menambahkan kalimat yang layak dihafal: Allah memberi kita bukan roh ketakutan, melainkan roh kekuatan, kasih dan ketertiban.
Hari ini Gereja mengenang Karolus Lwanga dan kawan-kawannya, para martir Uganda. Kebanyakan mereka masih muda, pegawai istana raja. Iman mereka baru seumur jagung ketika diuji api yang sesungguhnya. Mereka dibakar hidup-hidup, dan sambil terbakar mereka berdoa. Kata martir sendiri turunan bahasa Yunani martys, artinya saksi. Bara kecil yang ditiup Roh ternyata bisa menerangi satu benua.
Kita mungkin tak diminta mati bagi iman. Tapi bara itu ada di dada setiap orang yang dibaptis. Kapan terakhir kali kita meniupnya?
Tuhan, karunia-Mu masih menyala di dalamku. Kirimkanlah napas Roh-Mu, supaya yang redup ini berkobar lagi. Amin.