Jumat, 29 Mei 2026
Rumah Doa yang Ramai Kosong
Ada rumah ibadah yang penuh tapi terasa kosong. Ramai orang, ramai kegiatan, ramai suara. Tetapi bila ditanya untuk apa semua itu, jawabannya seperti hilang. Kesibukan menutupi kekosongan.
Yesus masuk ke Bait Allah dan marah. Meja penukar uang dibalik, bangku pedagang merpati dijungkirkan. Ia mengutip nabi: "Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!" Tempat yang seharusnya untuk berjumpa dengan Allah berubah menjadi pasar.
Di sekitar peristiwa itu ada kisah pohon ara. Dari jauh daunnya rimbun, seolah menjanjikan buah. Yesus mendekat, ternyata hanya daun. Pohon itu dan Bait Allah menceritakan hal yang sama: penampilan yang menjanjikan, tetapi kosong di dalam. Rimbun tanpa isi.
Ini cermin yang tidak nyaman. Hidup rohani kita pun bisa penuh daun: rajin hadir, banyak kegiatan, aktif di lingkungan. Pertanyaannya, adakah buahnya? Sebab Tuhan datang mencari buah, bukan menghitung daun.
Petrus menunjuk buah yang dicari itu dalam bacaan pertama: "kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa... Layanilah seorang akan yang lain." Buah iman selalu berbentuk kasih yang nyata. Santo Paulus VI, yang kita kenang hari ini, membuka Gereja untuk melayani dunia zamannya, bukan sekadar menjaga bangunan.
Hidup rohani kita hari ini lebih banyak daun atau buah?
Tuhan, jangan biarkan aku puas dengan daun. Kunjungi dan bersihkanlah rumah hatiku, supaya berbuah kasih. Amin.