Selasa, 19 Mei 2026
Pamit Tanpa Ada yang Disembunyikan
Perpisahan yang paling tenang adalah yang tidak menyisakan ganjalan. Tidak ada kata yang tertahan, tidak ada maaf yang belum diucap, tidak ada urusan yang digantung. Orang yang pamit begitu bisa pergi dengan ringan.
Paulus memanggil para penatua Efesus, tahu ia tak akan bertemu mereka lagi. Ia mengenang tiga tahun pelayanannya, air mata dan pencobaannya, lalu berkata: "aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan." Dan penutupnya lega: "aku bersih... Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu."
Ada damai khusus pada orang yang bisa berkata begitu. Ia tidak menahan-nahan kebenaran demi disukai. Tidak menyimpan sebagian ajaran karena takut orang tersinggung. Semua yang perlu, ia sampaikan. Maka pamitnya bersih, tanpa utang.
Bandingkan dengan cara kita sering pergi: menyimpan unek-unek, menahan nasihat yang perlu, menunda memberi yang seharusnya diberi, berpikir masih ada waktu lain. Padahal tidak semua perjumpaan punya "lain kali".
Paulus sanggup pamit begini karena hidupnya memang diberikan habis: "aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan Tuhan Yesus." Orang yang menyerahkan semua tidak takut berpisah.
Kalau hari ini kita harus berpamitan pada seseorang, adakah yang masih kita sembunyikan atau tunda?
Tuhan, tolonglah aku menuntaskan bagianku, supaya bila tiba waktu berpisah, aku pergi dengan hati yang bersih. Amin.