Kamis, 14 Mei 2026
Naik, tapi Tak Pergi
Ada dua cara meninggalkan pekerjaan. Pergi begitu saja, membiarkan yang ditinggal kebingungan. Atau pergi setelah memastikan semua tertata, tim lengkap, tugas dibagi jelas. Cara kedua adalah cara orang yang benar-benar peduli.
Hari ini kita merayakan Kenaikan Tuhan. Yesus terangkat ke surga, tidak lagi hadir seperti dulu. Sepintas ini kehilangan. Tetapi perhatikan apa yang terjadi sesudahnya dalam bacaan pertama: para murid tidak bubar, tidak panik. Mereka berkumpul, berdoa, dan membenahi barisan.
Ada satu kursi kosong. Yudas telah pergi, dan Petrus merasa lubang itu harus ditutup sebelum mereka melangkah. "Biarlah jabatannya diambil orang lain." Maka diusulkan dua nama, didoakan, lalu diundi. Matias terpilih, dan bilangan dua belas kembali genap.
Syarat yang diajukan Petrus menarik. Pengganti Yudas haruslah orang yang "senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami", sejak baptisan Yohanes sampai hari Ia terangkat. Bukan yang paling pandai berbicara, melainkan yang paling setia hadir. Saksi Kenaikan bukan orang yang muncul sekali-sekali, melainkan yang bertahan menemani dari awal sampai akhir. Kesetiaan yang tak mencolok itulah bekal pertama seorang rasul.
Mengapa harus dua belas? Karena angka itu melambangkan Israel yang utuh, dua belas suku. Sebelum Roh Kudus turun, umat yang baru ini dirapikan dulu. Yesus naik ke surga bukan untuk meninggalkan pekerjaan yang terbengkalai, melainkan menyerahkannya kepada tim yang sudah dilengkapi.
Dan di sinilah letak penghiburan Kenaikan. Ia pergi bukan supaya jauh, melainkan supaya hadir dengan cara baru, di dalam dan melalui murid-murid-Nya. Dalam Injil Ia sudah berkata, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu... supaya kamu pergi dan menghasilkan buah." Kita ini kelanjutan tangan-Nya di bumi. Kenaikan bukan pintu yang tertutup di belakang-Nya, melainkan jendela yang terbuka bagi cara kehadiran yang baru.
Matias tidak pernah tercatat berkhotbah hebat sesudahnya. Namanya nyaris hilang dari sejarah. Tapi ia mengisi tempat yang perlu diisi. Kadang panggilan kita memang sesederhana itu: bersedia mengisi satu kursi yang kosong, supaya barisan kembali utuh. Tidak semua panggilan berbentuk mimbar dan sorotan; sebagian hanya berupa kesediaan hadir di tempat yang ditinggalkan orang lain.
Kursi kosong mana di sekitar kita, di keluarga atau lingkungan, yang menunggu kesediaan kita mengisinya?
Tuhan yang naik ke surga, Engkau mempercayakan pekerjaan-Mu ke tangan kami. Jadikan aku bersedia mengisi tempat yang Kaupanggilkan. Amin.