‹ Semua renungan

Minggu, 10 Mei 2026

Ditanya, Bukan Berdebat

Ada tetangga yang bertanya bukan untuk berdebat, melainkan karena penasaran. "Kok kamu masih setia ke gereja tiap minggu? Apa untungnya?" Pertanyaan seperti itu bukan serangan. Ia sebuah pintu.

Petrus menulis untuk saat-saat seperti ini. "Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu." Kita diminta siap menjelaskan iman. Tapi perhatikan syaratnya, yang sering kita lewatkan: "dengan lemah lembut dan hormat."

Betapa mudah kita lupa bagian kedua itu. Kita bisa benar tetapi galak, menang berdebat tetapi kalah menyentuh hati. Petrus tahu, orang tidak tertarik pada iman karena kalah adu argumen. Mereka tertarik karena melihat pengharapan yang tenang pada orang yang hidupnya tidak gampang.

Dan pengharapan itu bukan hasil pintar sendiri. Dalam Injil, Yesus menjanjikan "Penolong yang lain", Roh Kebenaran, yang akan menyertai selama-lamanya. Kata Yunani untuk Penolong itu Parakletos, harfiahnya "yang dipanggil untuk mendampingi", seperti seorang pembela yang berdiri di sisi kita. Kita tidak bersaksi sendirian; ada yang mendampingi dari dalam.

Maka menjawab pertanyaan tetangga tadi tidak perlu jadi ceramah teologi. Cukup jujur: aku berharap karena aku percaya kubur Yesus kosong, dan harapan itu membuatku sanggup bertahan. Selebihnya, biar hidup kita yang menjelaskan. Kesaksian yang paling meyakinkan sering bukan yang paling fasih, melainkan yang paling cocok antara kata dan laku.

Di Samaria, orang percaya bukan pertama-tama karena argumen Filipus, melainkan karena melihat sukacita yang nyata: "sangatlah besar sukacita dalam kota itu." Sukacita menular lebih cepat daripada dalil.

Dan perhatikan, di Samaria pun iman tidak berhenti pada Filipus seorang. Para rasul mengutus Petrus dan Yohanes supaya orang-orang itu menerima Roh Kudus melalui penumpangan tangan. Iman selalu dirawat dalam kebersamaan, bukan sendiri-sendiri. Pengharapan yang kita bela di hadapan tetangga pun bukan hasil renungan pribadi di kamar, melainkan warisan seluruh Gereja yang menopang kita dari belakang.

Bulan Mei ini, saat kita banyak menghormati Bunda Maria, ada baiknya belajar dari caranya menjawab: sedikit kata, banyak percaya. "Terjadilah padaku menurut perkataanmu."

Kalau ada yang bertanya soal harapan kita, apa jawaban jujur yang siap kita berikan, dan dengan nada apa?

Tuhan, berilah aku Roh-Mu untuk bersaksi dengan lembut, dan hidup yang membuat orang bertanya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →