Kamis, 30 April 2026
Melepas Sandal
Di banyak rumah kita, ada kebiasaan kecil yang penuh makna: melepas alas kaki sebelum masuk. Sandal ditinggalkan di ambang pintu, dan kaki telanjang melangkah ke dalam. Ada pengakuan diam-diam dalam gerakan sederhana itu, bahwa tempat yang dimasuki lebih pantas dihormati daripada debu jalan yang menempel di kaki kita.
Yohanes Pembaptis, yang begitu dielu-elukan orang banyak, memakai gambaran itu untuk menempatkan dirinya. Dalam khotbah Paulus di Antiokhia, kata-kata Yohanes dikutip kembali: aku bukanlah Dia yang kamu sangka; Ia akan datang kemudian dari padaku, dan membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak. Membuka kasut adalah pekerjaan hamba yang paling rendah. Yohanes berkata bahwa ia bahkan tak pantas melakukan tugas serendah itu bagi Yesus.
Kerendahan seperti ini langka justru karena Yohanes sebenarnya punya banyak alasan untuk merasa penting. Orang berbondong-bondong datang kepadanya. Tetapi ia tahu persis siapa dirinya dan siapa yang datang sesudahnya. Ia menunjuk menjauh dari dirinya sendiri, kepada Sang Anak Domba.
Yesus meneguhkan sikap itu dalam Injil hari ini: seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Berbahagialah kamu jika kamu tahu semua ini dan melakukannya. Mengenal tempat kita di hadapan Tuhan bukanlah merendahkan diri secara semu, melainkan sekadar melihat kenyataan apa adanya. Dan orang yang tahu tempatnya justru dipakai Tuhan dengan leluasa.
Tuhan, ajarilah aku mengenal tempatku di hadapan-Mu, seperti orang yang melepas sandal di ambang pintu. Jadikanlah aku penunjuk jalan kepada-Mu, bukan kepada diriku sendiri. Amin.