‹ Semua renungan

Senin, 27 April 2026

Siapa Boleh di Meja

Meja makan sering menjadi tempat prasangka kita paling kelihatan. Ada orang yang dengan senang hati kita ajak duduk semeja, dan ada orang yang, tanpa pernah kita ucapkan, diam-diam kita rasa tidak pantas ada di situ. Garis siapa yang boleh masuk dan siapa yang tidak biasanya sudah kita gambar jauh sebelum tamu datang.

Petrus pun membawa garis semacam itu. Sebagai orang Yahudi yang saleh, ia tahu betul batas antara yang tahir dan yang haram. Maka Allah memberinya sebuah penglihatan: sehelai kain besar berisi segala jenis binatang, dengan suara yang menyuruh, sembelihlah dan makanlah. Petrus menolak: belum pernah sesuatu yang haram masuk ke mulutku. Tetapi suara itu menjawab, apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.

Penglihatan itu ternyata bukan tentang makanan, melainkan tentang manusia. Tak lama kemudian Petrus masuk ke rumah orang-orang yang dahulu ia anggap di luar batas, dan menyaksikan Roh Kudus turun ke atas mereka persis seperti ke atas para murid. Ia hanya bisa menyimpulkan: jadi kepada bangsa-bangsa lain pun Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.

Betapa sering kita lebih ketat daripada Allah sendiri. Kita mencoret orang dari daftar yang layak menerima kasih-Nya, padahal Ia sudah menyatakan mereka halal. Injil Paskah selalu meruntuhkan tembok yang kita bangun tentang siapa yang pantas duduk di meja Tuhan.

Tuhan, ampunilah prasangkaku yang mencoret orang dari kasih-Mu. Ajarilah aku menerima siapa saja yang telah Engkau nyatakan layak, dan memperluas mejaku seluas meja-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →