Jumat, 24 April 2026
Buta Supaya Melihat
Kadang mata perlu kehilangan cahaya untuk bisa melihat yang sebenarnya. Orang yang keluar dari ruang terang ke halaman gelap mula-mula tidak melihat apa-apa. Tetapi bila ia sabar menunggu, perlahan bintang-bintang yang selama ini tertutup silau lampu mulai bermunculan. Ada penglihatan yang hanya lahir setelah kita dibuat berhenti melihat.
Saulus sedang berkobar-kobar hendak menangkap dan membinasakan para murid Tuhan. Ia begitu yakin sedang membela Allah, sampai-sampai matanya buta terhadap kebenaran yang berdiri di depannya. Di jalan menuju Damsyik, cahaya dari langit tiba-tiba mengelilinginya, ia rebah ke tanah, dan sebuah suara berkata: Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sejak saat itu ia tidak dapat melihat selama tiga hari.
Kebutaan tiga hari itu bukan hukuman, melainkan sebuah jeda. Orang yang selama ini merasa paling tahu dibuat harus dituntun seperti anak kecil. Baru setelah Ananias datang dan menumpangkan tangan, sesuatu seperti selaput gugur dari matanya, dan ia melihat lagi, kali ini dengan mata yang baru. Sang pemburu berubah menjadi pewarta; hari itu juga ia memberitakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Ada saat-saat gelap dalam hidup ketika kita seolah kehilangan arah dan tidak lagi bisa melihat jalan. Kisah Saulus mengingatkan bahwa masa buta itu bisa menjadi tempat Tuhan membuka mata kita yang sesungguhnya. Kadang Ia harus memadamkan kepastian palsu kita lebih dahulu, supaya kita akhirnya melihat Dia.
Tuhan, bila aku harus melewati masa gelap, pakailah itu untuk membuka mataku yang sesungguhnya. Runtuhkanlah kepastian palsuku, dan biarkan aku melihat Engkau. Amin.