‹ Semua renungan

Minggu, 1 Maret 2026

Turun Gunung

Orang rela berangkat dini hari demi matahari terbit di puncak gunung. Dingin ditahan. Kaki dipaksa. Lalu cahaya itu datang, dan semua lelah seperti dibayar lunas. Anehnya, tidak ada orang yang lantas mendirikan rumah di puncak. Secantik apa pun pemandangannya, semua orang tahu: hidup ada di bawah, dan jalan pulang harus ditempuh.

Minggu lalu kita mendengar Petrus menerima kunci Kerajaan Surga. Hari ini Petrus dibawa naik gunung dan melihat sesuatu yang tidak bisa dibeli tiket masuknya: Yesus berubah rupa, wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Reaksi Petrus sangat manusiawi. Betapa bahagianya kami di sini. Mari dirikan tiga kemah. Terjemahan bebasnya: jangan pulang dulu, kita menetap saja di sini.

Tetapi dari awan hanya terdengar satu perintah: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Bukan dirikanlah kemah. Bukan abadikan saat ini. Dengarkanlah Dia. Dan begitu para murid mengangkat kepala, yang tersisa hanya Yesus. Mereka pun turun gunung, kembali ke jalan yang menuju Yerusalem, menuju salib.

Bacaan pertama seperti cermin dari arah lain. Abram berumur tujuh puluh lima tahun ketika disuruh pergi dari negerinya, dari rumah bapanya, ke negeri yang belum ditunjukkan. Pada usia orang bersiap istirahat, ia justru diminta berangkat. Dan ia pergi. Tanpa peta. Hanya membawa janji.

Ternyata iman jarang berbentuk menetap. Iman lebih sering berbentuk berjalan. Abram berjalan meninggalkan yang pasti. Petrus berjalan turun meninggalkan yang indah. Paulus dalam suratnya kepada Timotius menyebutnya panggilan kudus, dan menambahkan dengan jujur: ikutlah menderita bagi Injil.

Kita pun punya puncak-puncak kecil. Retret yang menyentuh hati. Misa yang terasa hangat. Doa yang begitu jernih sampai kita ingin waktu berhenti. Semua itu anugerah. Tetapi Prapaskah mengingatkan bahwa gunung bukan alamat tinggal kita. Kemuliaan di puncak diberikan bukan untuk dinikmati lama-lama, melainkan untuk menjadi bekal di jalan turun: melewati dapur yang kotor, pekerjaan yang menjemukan, orang-orang yang sulit dikasihi.

Hari ini, gunung mana yang sedang enggan kita tinggalkan? Dan siapa yang menunggu kita di bawah?

Tuhan, terima kasih untuk saat-saat terang di puncak. Beri aku keberanian Abram untuk berangkat dan kerelaan Petrus untuk turun, sambil terus mendengarkan Anak-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →