Rabu, 25 Februari 2026
Satu Kalimat
Pengumuman dari pengeras suara kampung biasanya pendek: air akan mati besok, kerja bakti hari Minggu. Pendek, tetapi seisi kampung bergerak.
Khotbah Yunus di Niniwe hampir sependek itu: empat puluh hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan. Satu kalimat, tanpa penjelasan, tanpa ilustrasi. Hasilnya mencengangkan: kota raksasa yang tiga hari perjalanan luasnya itu bertobat. Rakyat berpuasa, raja turun dari singgasana dan duduk di abu, bahkan ternak ikut berkabung. Padahal Yunus nabi yang setengah hati, yang dulu lari dari tugasnya.
Rupanya yang mengubah Niniwe bukan kehebatan pengkhotbahnya, melainkan hati pendengarnya yang terbuka. Firman yang sama bisa jatuh di batu, bisa jatuh di tanah gembur.
Yesus menegur angkatan zaman-Nya yang menuntut tanda lebih dulu: orang-orang Niniwe akan bangkit menghukum angkatan ini, sebab mereka bertobat waktu mendengarkan pemberitaan Yunus, dan yang ada di sini lebih daripada Yunus. Kalimat itu mengarah juga kepada kita. Kita sudah mendengar ratusan khotbah dan membaca entah berapa renungan seperti ini. Niniwe cukup satu kalimat. Kita sedang menunggu kalimat yang keberapa?
Tuhan, gemburkan hatiku, supaya firman-Mu hari ini tidak lewat begitu saja melainkan menghasilkan pertobatan. Amin.