Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga
Hari Raya ini merayakan kebenaran iman bahwa Santa Perawan Maria, pada akhir hidupnya di dunia, diangkat ke dalam kemuliaan surgawi dengan tubuh dan jiwanya. Maria, yang sejak awal dikandung tanpa noda dosa dan menjadi Bunda Allah, tidak dibiarkan mengalami kebinasaan tubuh di dalam kubur, melainkan disatukan sepenuhnya dengan Putranya yang mulia.
Meski peristiwa ini tidak diceritakan langsung dalam Kitab Suci, iman akan pengangkatan Maria berakar pada tradisi kuno Gereja dan pada keseluruhan misteri keselamatan. Sebagai buah pertama penebusan Kristus, Maria menikmati lebih dahulu apa yang dijanjikan kepada semua orang beriman. Kidung Wahyu tentang perempuan yang berselubungkan matahari (Wahyu 12:1) sering dibaca sebagai gambaran kemuliaannya.
Keyakinan ini sudah dirayakan Gereja Timur maupun Barat sejak berabad-abad lamanya sebagai pesta yang agung. Menjelang pertengahan abad kedua puluh, banyak uskup dan umat mendesak agar kebenaran ini dinyatakan secara resmi. Paus Pius XII lebih dulu meminta pendapat seluruh uskup sedunia, dan lebih dari seribu uskup menyatakan persetujuan.
Maka pada 1 November 1950, melalui konstitusi apostolik Munificentissimus Deus, Paus Pius XII memaklumkan sebagai dogma iman bahwa Maria diangkat ke surga dengan tubuh dan jiwanya. Ini adalah satu-satunya pernyataan ex cathedra sejak dogma infalibilitas dirumuskan. Bagi umat hari ini, Hari Raya ini adalah tanda pengharapan pasti bahwa mereka pun dipanggil kepada kemuliaan tubuh dan jiwa bersama Allah.
Ditetapkan: didogmakan oleh Paus Pius XII pada 1 November 1950 melalui konstitusi apostolik Munificentissimus Deus.