Selasa, 25 November 2031
Batu yang Jadi Gunung
Kemarin kita memandang seorang janda memasukkan dua peser ke peti persembahan di Bait Allah. Hari ini orang-orang masih di Bait yang sama, mengagumi batu-batunya yang indah. Tetapi Yesus berkata, akan datang harinya tidak satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain. Semuanya akan diruntuhkan.
Bacaan Pertama menyorot hal yang sama lewat mimpi Raja Nebukadnezar. Ia melihat patung raksasa yang megah: kepala emas, dada perak, perut tembaga, kaki besi bercampur tanah liat. Patung yang gagah dan menakjubkan. Lalu sebuah batu terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia, menimpa kaki patung itu, dan seluruh patung remuk menjadi seperti sekam yang ditiup angin.
Patung itu melambangkan kerajaan-kerajaan besar dunia, satu demi satu bangkit dan berkuasa, lalu runtuh. Semegah apa pun, semuanya bertumpu pada kaki yang rapuh. Tetapi batu kecil tadi tidak lenyap. Ia justru menjadi gunung besar yang memenuhi seluruh bumi. Itulah Kerajaan Allah, yang tidak akan pernah binasa.
Zaman ini pun penuh patung megah yang kita kagumi dan kita takuti: kuasa, kekayaan, nama besar. Semuanya tampak kokoh, padahal berdiri di atas kaki yang rapuh. Yang bertahan hanya satu, yaitu Kerajaan yang dibangun bukan oleh tangan manusia.
Pada apa aku menyandarkan rasa amanku hari ini, pada patung megah yang akan remuk, atau pada batu yang menjadi gunung kekal?
Tuhan, lepaskanlah aku dari mengagumi yang megah tetapi rapuh. Dirikanlah hidupku di atas Kerajaan-Mu yang tidak akan pernah runtuh. Amin.