Minggu, 9 November 2031
Bait yang Berupa Tubuh
Ada bangunan-bangunan yang begitu megah sampai orang datang jauh-jauh hanya untuk memotretnya. Mereka berdiri di depannya, berfoto, mengagumi tinggi menaranya dan indah ukirannya, lalu pulang. Yang mereka bawa hanya gambar dindingnya. Apa yang terjadi di dalam, untuk apa gedung itu dibangun, sering justru terlewat.
Hari ini Gereja mengenang pemberkatan Basilika Santo Yohanes Lateran, gereja katedral Sri Paus di Roma, yang disebut ibu dari semua gereja. Wajar bila kita membayangkan kemegahan batu dan pualamnya. Tetapi bacaan-bacaan hari ini justru menarik mata kita menjauh dari tembok.
Dalam Injil, Yesus masuk ke Bait Allah di Yerusalem, bangunan paling suci dan paling dibanggakan bangsa-Nya, lalu mengusir para pedagang. Rumah Bapa-Ku bukan tempat berjualan, kata-Nya. Orang-orang menantang, tanda apa yang bisa Ia tunjukkan. Jawab Yesus mengejutkan: rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. Mereka mengira Ia bicara tentang gedung yang dibangun empat puluh enam tahun. Padahal, kata Yohanes, yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri.
Di sinilah seluruh cara pandang dibalik. Rumah Allah yang sejati ternyata bukan tumpukan batu, betapapun sucinya. Rumah Allah yang sejati adalah sebuah Pribadi. Allah tidak lagi tinggal di dalam gedung; Ia tinggal di dalam tubuh Kristus, dan melalui Dia, di dalam kita.
Yehezkiel sudah melihatnya dari jauh. Dari bait itu mengalir air yang menghidupkan, makin jauh makin deras, sampai laut yang mati pun menjadi tawar dan penuh ikan. Tanda sebuah rumah Allah yang sejati bukan megah temboknya, melainkan hidup yang mengalir keluar darinya.
Maka pesta hari ini bukan tentang mengagumi satu gedung indah di Roma. Ia pertanyaan bagi setiap kita yang oleh permandian telah dijadikan bait Allah yang hidup. Kalau tubuhku ini rumah Tuhan, apa yang orang temukan ketika masuk ke dalamnya? Kekudusan yang menyegarkan, atau kesibukan berjualan seperti pasar? Dan dari hidupku, adakah air yang mengalir keluar, menghidupkan orang di sekitarku?
Santo Paulus pernah menuliskannya terang-terangan kepada jemaat di Korintus: tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus? Kalimat itu mengubah cara kita memandang diri sendiri. Merawat tubuh dan jiwa, menjaganya dari yang menajiskan, ternyata bukan urusan sepele, melainkan cara kita menghormati rumah yang Allah pilih untuk didiami.
Tuhan, Engkau memilih tinggal bukan di gedung megah, melainkan di dalam diriku. Bersihkanlah bait ini dari segala yang menjadikannya pasar, agar dari dalamnya mengalir air yang menghidupkan sesamaku. Amin.