Sabtu, 1 November 2031
Yang Tak Terhitung
Negara suka menghitung. Ada sensus penduduk, ada nomor induk, ada antrean yang diberi karcis bernomor supaya semua tertib. Manusia zaman ini seperti tidak tenang sebelum segala sesuatu punya angka. Berapa jumlahnya? Nomor berapa? Terdaftar atau tidak?
Kitab Wahyu hari ini seolah ikut menghitung. Mula-mula disebut angka yang rapi: seratus empat puluh empat ribu, dimeteraikan dari suku-suku Israel. Tetapi begitu Yohanes menoleh, hitungan itu bubar. Yang ia lihat adalah kumpulan besar yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berjubah putih, memegang daun palem. Surga rupanya penuh sesak oleh orang-orang yang tidak lagi bisa didata.
Inilah yang kita rayakan pada Hari Semua Orang Kudus. Bukan hanya para santo yang namanya terpahat di kalender, yang pestanya punya tanggal dan gambarnya tergantung di dinding gereja. Justru yang paling banyak adalah mereka yang tak bernama: nenek yang tekun berdoa rosario, katekis tua di stasi terpencil, ibu yang memilih berdamai dengan tetangganya, bapak yang jujur meski dagangannya kecil. Tidak ada yang mencatat mereka. Tetapi Allah tidak kehilangan satu pun.
Dan dari mana mereka datang? Jawab tua-tua itu: mereka keluar dari kesusahan yang besar. Kekudusan tidak lahir di ruang steril. Ia ditempa di dapur yang panas, di kamar orang sakit, di tempat orang memilih tetap setia meski berat.
Surat Yohanes menambah satu hal yang menenangkan: sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata keadaan kita kelak. Artinya kita ini calon. Barisan tak terhitung itu masih membuka tempat. Dan Injil menunjukkan jalannya, ternyata sederhana: berbahagialah yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang murah hati. Tidak ada syarat gelar, tidak ada syarat mukjizat.
Maka pertanyaan hari ini bukan berapa nomor antrean kita. Pertanyaannya: siapa orang kudus tanpa nama yang pernah Tuhan kirim dalam hidupku, dan maukah aku berjalan di jalan yang sama dengan mereka?
Dan jangan lewatkan daun palem di tangan mereka. Palem adalah tanda kemenangan, lambang orang yang menang dalam pertandingan. Tetapi kemenangan para kudus bukan kemenangan atas orang lain, melainkan atas diri sendiri: atas rasa takut, atas keserakahan, atas godaan untuk menyerah. Mereka menang bukan dengan mengalahkan sesama, melainkan dengan bertahan setia sampai akhir. Dan piala itu, jubah putih dan daun palem, ternyata disediakan juga bagi kita yang hari ini masih berjuang di tengah jalan.
Tuhan, Engkau tidak menghitung kami seperti angka, melainkan mengenal kami satu per satu. Masukkanlah aku ke dalam barisan tak terhitung para kudus-Mu. Amin.