Kamis, 30 Oktober 2031
Semalaman di Bukit
Sebelum tukang memasang batu pertama, ada pekerjaan yang tidak kelihatan hasilnya: menggali dan menuang fondasi. Berhari-hari bekerja, lalu semuanya ditimbun tanah. Orang lewat hanya akan memuji dinding dan catnya. Tetapi tukang tahu, umur rumah ditentukan oleh yang tertimbun itu.
Injil hari ini mencatat kebiasaan Yesus yang serupa: sebelum memilih dua belas rasul, Ia pergi ke bukit dan semalam-malaman berdoa kepada Allah. Keputusan besar itu tidak diambil di tengah kerumunan, melainkan lahir dari malam yang sunyi. Keramaian pelayanan-Nya, orang banyak yang berdesakan ingin menjamah-Nya, semuanya berdiri di atas fondasi doa yang tidak dilihat siapa-siapa.
Kita sering kebalikannya. Memutuskan dulu, berdoa belakangan, itu pun kalau sempat. Doa menjadi stempel pengesahan, bukan tanah tempat keputusan berakar.
Dari malam doa itu lahirlah nama-nama, termasuk Simon orang Zelot dan Yudas anak Yakobus yang dikenang Gereja pekan ini. Paulus menyebut para rasul itu dasar tempat kita dibangun, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Bangunan iman kita pun sama: kokoh sejauh fondasinya. Keputusan apa yang sedang kutimbang-timbang, yang belum pernah kubawa sungguh-sungguh ke dalam doa?
Tuhan, ajarilah aku berakar dalam doa sebelum bertindak, seperti Engkau semalaman di bukit. Amin.