Minggu, 5 Oktober 2031
Biji di Tanah Retak
Petani tahu rasanya menunggu. Langit Oktober sering hanya menggantung mendung tanpa menurunkan hujan. Tanah retak. Benih sudah di tangan. Dan setiap pagi pertanyaannya sama: sampai kapan?
Pertanyaan itu persis jeritan Habakuk: 'Berapa lama lagi, Tuhan, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar?' Nabi ini tidak sedang kekurangan iman. Ia justru beriman, maka ia berani protes. Orang yang tidak percaya tidak akan repot-repot berteriak kepada langit. Dan jawaban Tuhan menarik: penglihatan itu masih menanti saatnya; apabila berlambat-lambat, nantikanlah. Lalu kalimat emas itu: 'Orang yang benar akan hidup oleh percayanya.'
Minggu lalu kita mendengar kisah orang kaya dan Lazarus, tentang mata yang terlambat terbuka. Hari ini para rasul seolah sadar bahwa melihat dengan benar itu sulit, maka mereka memohon, 'Tambahkanlah iman kami!' Permintaan yang kedengarannya saleh. Tetapi jawaban Yesus mengejutkan: kalau sekiranya kamu punya iman sebesar biji sesawi saja, pohon ara pun akan taat kepadamu.
Perhatikan baik-baik: Yesus tidak berkata iman mereka kurang besar. Ia berkata iman itu tidak diukur dengan takaran. Biji sesawi nyaris tak terlihat di telapak tangan. Persoalannya bukan berapa banyak iman yang kita punya, melainkan apakah kita berani menanamnya. Benih sekecil apa pun, kalau ditanam, tumbuh. Benih sebesar apa pun, kalau hanya digenggam, mati.
Maka Yesus menyambung dengan perumpamaan hamba yang membajak. Sesudah semua tugas selesai, hamba itu berkata, 'Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.' Terdengar keras di telinga zaman ini, zaman yang gemar menghitung jasa. Tetapi justru di sinilah iman sesawi itu bekerja: setia mengerjakan bagian kita, tanpa menuntut panggung, tanpa menagih tepuk tangan. Hujan dan pertumbuhan itu urusan Tuhan.
Paulus dalam bacaan kedua memakai gambaran api: kobarkanlah karunia Allah yang ada padamu. Api yang tidak dikobarkan pelan-pelan padam. Iman yang tidak dipakai pelan-pelan dingin. Sebab Allah memberi kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.
Jadi minggu ini pertanyaannya sederhana. Benih iman itu sudah ada di tangan kita sejak permandian. Masihkah kita genggam saja, karena menunggu merasa siap, menunggu suasana enak, menunggu hujan turun dulu? Tanamlah. Satu kebaikan kecil hari ini. Satu doa yang setia. Satu tugas yang diselesaikan tanpa mengeluh. Tanah yang retak pun tahu caranya menumbuhkan, asal ada yang berani menanam.
Tuhan, aku tidak meminta iman yang besar. Aku meminta keberanian menanam iman yang kecil ini hari demi hari, sampai Engkau sendiri yang menumbuhkannya. Amin.