Minggu, 31 Agustus 2031
Daftar Tamu yang Tak Bisa Membalas
Minggu lalu Yesus berbicara tentang pintu yang sempit, yang menuntut kita melepas beban untuk bisa masuk. Hari ini Ia melanjutkan dengan pelajaran tentang beban yang paling halus dan paling berat, yaitu keinginan untuk dianggap penting.
Yesus sedang makan di rumah seorang pemimpin Farisi. Ia memperhatikan bagaimana para tamu berebut tempat kehormatan, memilih kursi paling depan. Pemandangan yang tak asing. Di banyak perjamuan pun kita diam-diam mengukur, di mana kita ditempatkan, cukup terhormat atau tidak.
Lalu Yesus memberi nasihat yang kelihatannya soal tata krama. "Apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah." Sekilas ini cuma siasat supaya tidak malu, supaya nanti dipersilakan maju. Tetapi di baliknya ada ajaran yang lebih dalam. Orang Jawa menyebutnya andhap asor, sikap rendah hati yang tidak sibuk menonjolkan diri. Sirakh sudah mengatakannya, "Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu."
Yang lebih menusuk datang di bagian kedua. Yesus berpaling kepada tuan rumah dan berkata, "Apabila engkau mengadakan perjamuan, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau tetangga-tetanggamu yang kaya." Mengapa? "Karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula." Undangan yang kelihatannya murah hati itu sebenarnya perdagangan halus. Aku mengundangmu supaya kau mengundangku. Kebaikan yang sudah menghitung balasannya.
Sebagai gantinya, Yesus berkata, "Undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta." Dengan satu alasan yang mengubah segala, "karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu." Justru karena tak bisa membalas, kebaikan itu jadi murni. Kita akhirnya memberi tanpa diam-diam menagih.
Di sinilah dua bacaan bertemu. Sirakh bicara tentang rendah hati, Yesus menariknya sampai ke daftar tamu. Rendah hati sejati bukan sekadar memilih kursi belakang, melainkan berani berbuat baik kepada orang yang tak akan pernah bisa membalas. Sebab di situlah kasih berhenti jadi dagang dan mulai jadi kasih.
Surat Ibrani mengangkat pandangan kita lebih tinggi. Kita sudah datang ke Bukit Sion, kota Allah yang hidup, ke perjamuan surgawi yang meriah. Di meja itu tak ada rebutan kursi, sebab tuan rumahnya sendiri yang menempatkan kita. Kalau perjamuan terbesar sudah disediakan cuma-cuma bagi kita yang tak bisa membalas apa-apa kepada Allah, pantaskah kita masih berdagang kebaikan di meja-meja kecil di dunia? Siapa dalam hidupku yang bisa kuundang justru karena ia tak mungkin membalas?
Tuhan, sembuhkan aku dari kebaikan yang diam-diam menagih balasan. Ajari aku memilih tempat yang rendah dan mengundang mereka yang tak bisa membalas, seperti Engkau mengundang aku ke meja-Mu. Amin.