‹ Semua renungan

Minggu, 27 Juli 2031

Mengetuk Tengah Malam

Bayangkan tengah malam, semua sudah tidur, lalu terdengar ketukan di pintu. Seorang sahabat datang dari perjalanan jauh dan singgah ke rumah kita, sementara kita tidak punya apa-apa untuk dihidangkan. Dalam keadaan malu itu, kita nekat mengetuk pintu tetangga: "Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti."

Itulah cerita yang dipakai Yesus hari ini untuk mengajar murid-murid berdoa. Menarik, permintaan itu bukan untuk diri sendiri, melainkan demi tamu yang butuh. Dan kunci keberhasilannya, kata Yesus, adalah "sikapnya yang tidak malu", keberanian mengetuk terus tanpa sungkan.

Tetapi sebelum sampai ke perumpamaan itu, Yesus lebih dulu mengajarkan satu kata pembuka yang mengubah segalanya. Ketika murid meminta diajari berdoa, Ia berkata: "Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa." Bukan Tuan, bukan Hakim, bukan Penguasa yang jauh. Bapa. Seluruh keberanian mengetuk tengah malam itu bertumpu pada satu kenyataan: yang kita ketuk adalah pintu seorang Bapa.

Yesus menegaskannya dengan pertanyaan yang jujur: bapa manakah yang memberi anaknya ular ketika ia minta ikan, atau kalajengking ketika ia minta telur? "Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga."

Bacaan pertama sudah memberi contohnya. Abraham berani berbicara terus-menerus kepada Allah demi Sodom: bagaimana kalau ada lima puluh orang benar, empat puluh lima, empat puluh, sampai sepuluh? Ia mendesak dengan hormat namun gigih, seperti anak yang tahu ia sedang berbicara kepada Bapa yang berbelas kasih, bukan kepada tiran yang gampang murka.

Lalu mengapa kita bisa seberani itu di hadapan Allah? Paulus menjawab dalam bacaan kedua. Dahulu ada "surat hutang" yang mendakwa kita, daftar pelanggaran yang membuat kita tak berani mendekat. Tetapi surat itu sudah dihapuskan Allah, "dipakukan-Nya pada kayu salib". Utang kita lunas. Maka kita datang bukan sebagai terdakwa yang menunduk, melainkan sebagai anak yang diampuni.

Di sinilah banyak dari kita perlu dibetulkan. Kerap kita berdoa dengan hati seorang buruh: kalau kurang rajin, permohonan ditolak; kalau berdosa, tak pantas didengar. Yesus mengajak kita mengganti cara pandang itu. Berdoalah sebagai anak, bukan sebagai buruh. Mengetuklah dengan berani, sebab pintu yang kita ketuk adalah pintu rumah kita sendiri.

Pekan ini, adakah permohonan yang sudah lama kita hentikan karena merasa tidak layak? Ketuklah lagi. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."

Bapa, ajarilah aku berdoa bukan dengan takut seorang buruh, melainkan dengan berani seorang anak. Utangku sudah Kaupaku di salib; maka aku mengetuk pintu-Mu tanpa ragu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →