Kamis, 17 Juli 2031
Nama yang Berupa Kerja
Di negeri kita, nama hampir selalu berisi doa. Orang tua memberi nama dengan harapan: semoga anak ini kuat, bijak, terberkati. Nama menjadi semacam ringkasan siapa seseorang, atau siapa yang kita harapkan ia menjadi.
Maka wajar Musa bertanya kepada Allah, "Bagaimana tentang nama-Nya? Apakah yang harus kujawab?" Ia ingin tahu identitas Allah yang mengutusnya. Jawaban yang ia terima aneh sekaligus dalam: "AKU ADALAH AKU."
Itu bukan nama seperti nama berhala, yang menjelaskan fungsi: dewa hujan, dewa perang, dewa panen. Nama itu justru menolak dikurung dalam satu kotak. Dalam bahasa aslinya, ia berdekatan dengan kata kerja "ada", "hadir", bahkan "akan menyertai". Seolah Allah berkata: Aku bukan barang yang bisa kaudefinisikan; Aku Pribadi yang hadir, yang akan ada bersamamu.
Karena itu ketika Musa cemas menghadapi Firaun, jaminan yang diberikan bukan penjelasan panjang tentang siapa Allah, melainkan janji kehadiran: "Bukankah Aku akan menyertai engkau?"
Kita sering ingin memahami Tuhan seperti memahami rumus, supaya bisa kita atur dan kita duga. Tetapi Ia tidak menawarkan diri sebagai teka-teki yang harus dipecahkan. Ia menawarkan diri sebagai Pribadi yang menemani.
Hari ini, cukuplah kita tahu satu hal tentang nama-Nya: Ia ada, dan Ia menyertai.
Tuhan, Engkau bukan rumus untuk kupahami, melainkan Pribadi yang menyertai. Cukuplah kehadiran-Mu bagiku hari ini. Amin.