Selasa, 3 Juni 2031
Yang Bergambar Allah
Di pasar, uang logam berpindah tangan ratusan kali sehari. Tak seorang pun bertanya milik siapa gambar di permukaannya. Yang penting nilainya. Tetapi Yesus, ketika dijebak soal pajak, justru mengangkat sekeping dinar dan bertanya hal yang tampak sepele: gambar dan tulisan siapakah ini?
Jawabannya jelas, gambar Kaisar. Maka kata Yesus, berikan kepada Kaisar apa yang bergambar Kaisar. Sampai di sini para penjerat itu lega. Tetapi kalimat kedua-Nya jauh lebih tajam: berikan kepada Allah apa yang bergambar Allah. Dan apa yang bergambar Allah? Sejak halaman pertama Kitab Suci kita tahu jawabannya: manusia, diciptakan menurut gambar Allah. Koin berhak atas Kaisar. Diri kita berhak atas Allah.
Hari ini Gereja mengenang Karolus Lwanga dan kawan-kawannya, para pemuda dari istana raja di Uganda. Mereka dituntut menyerahkan tubuh dan iman mereka kepada raja. Mereka menolak, bukan karena membenci raja, melainkan karena tahu ada bagian dari diri yang hanya boleh diserahkan kepada Allah. Mereka dibakar hidup-hidup, muda-muda, sambil berdoa.
Kita jarang diminta memilih sedramatis itu. Tetapi setiap hari kita membagi diri kita: sekian untuk pekerjaan, sekian untuk gengsi, sekian untuk rasa takut. Pertanyaan Yesus tetap berlaku. Bagian mana dari hidup kita yang masih kita tahan, padahal ia bergambar Allah?
Tuhan, tolong aku mengembalikan kepada-Mu apa yang memang milik-Mu: seluruh diriku. Amin.