Sabtu, 10 Mei 2031
Penyakit Mata
Di pasar, ada penyakit yang lebih menular daripada flu: panas hati melihat lapak tetangga ramai. Dagangannya sama, harganya mirip, tetapi pembeli antre di sebelah. Mata yang tadinya jernih mendadak rabun; yang terlihat hanya keramaian orang lain.
Kemarin kita mendengar khotbah Paulus di rumah ibadat Antiokhia Pisidia. Hari ini, pada hari Sabat berikutnya, hampir seluruh kota berkumpul mendengarkannya. Reaksi para tokoh bukan sukacita melihat firman diminati, melainkan iri. Mereka membantah, menghujat, akhirnya mengusir. Aneh, bukan? Kabar baik ditolak bukan karena isinya salah, melainkan karena yang membawanya bukan mereka.
Iri memang begitu: lebih rela kebaikan gagal daripada kebaikan berhasil lewat tangan orang lain.
Tetapi lihatlah ujung kisahnya. Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki, pergi ke kota lain, dan murid-murid justru penuh sukacita dan Roh Kudus. Pintu yang dibanting di satu tempat menjadi pintu terbuka di tempat lain.
Yesus dalam Injil berjanji: barangsiapa percaya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar. Berkat Allah bukan kue yang habis dibagi. Keberhasilan sesama tidak mengurangi jatah kita.
Tuhan, sembuhkanlah mataku dari iri, supaya aku ikut bersukacita atas kebaikan yang bukan lewat tanganku. Amin.