‹ Semua renungan

Sabtu, 19 April 2031

Yang Tak Bisa Ditahan

Ada kabar yang tidak bisa disimpan. Ketika di sebuah kampung lahir seorang bayi, beritanya menyebar sendiri, dari pagar ke pagar, tanpa perlu pengumuman resmi. Orang yang menyaksikan sesuatu yang menggembirakan biasanya tidak sanggup diam. Diam justru terasa menyiksa. Kabar baik seperti air, ia mencari jalan keluarnya sendiri.

Petrus dan Yohanes ditangkap, diperiksa, lalu diperintahkan dengan keras supaya sama sekali tidak berbicara lagi dalam nama Yesus. Ancaman itu nyata, dan mereka orang biasa yang tidak terpelajar. Tetapi jawaban mereka berani sekali, 'Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.' Bukan bahwa mereka tidak takut. Hanya saja, ada yang lebih kuat daripada takut, yaitu kesaksian yang tidak bisa ditahan.

Perhatikan alasan mereka. Bukan karena mereka pandai berdebat, bukan karena mereka punya jabatan. Mereka hanya berkata tentang apa yang mereka lihat dan dengar sendiri. Iman yang paling kuat memang sering bukan iman yang paling pandai berteori, melainkan iman yang lahir dari perjumpaan nyata. Orang yang sungguh bertemu Tuhan tidak mudah disuruh diam.

Injil hari ini justru menampilkan kebalikannya. Ketika Maria Magdalena dan yang lain memberitakan bahwa Yesus hidup, murid-murid tidak percaya. Berkali-kali Yesus mencela ketidakpercayaan mereka. Barulah sesudah mereka sendiri berjumpa dengan Dia yang bangkit, mereka diutus, 'Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.' Dari yang tadinya tidak percaya, menjadi yang tidak bisa berhenti bersaksi.

Ada ironi yang manis di sini. Para pemimpin melarang mereka bicara justru karena mukjizat itu terlalu nyata untuk disangkal. Mereka sendiri mengakui, dalam sidang tertutup, bahwa suatu tanda yang menyolok telah terjadi. Kebenaran memang begitu. Ia bisa dilarang, diancam, dan ditekan, tetapi tidak bisa dibuat menjadi tidak pernah terjadi. Yang sudah dilihat tetap dilihat. Kebenaran bisa dibungkam sebentar, tetapi tidak bisa dipenjarakan selamanya.

Kita hidup di zaman ketika bicara soal iman kadang terasa canggung, seolah lebih sopan untuk diam. Tetapi kesaksian yang sejati bukan soal menggurui orang lain. Ia lahir dengan sendirinya dari hati yang sungguh pernah dijamah Tuhan.

Adakah kebaikan Tuhan dalam hidup kita yang begitu nyata, sampai kita merasa tidak mungkin untuk tidak menceritakannya?

Tuhan, jumpai aku dengan begitu nyata, sampai aku tidak sanggup lagi menyimpannya sendiri. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →