‹ Semua renungan

Rabu, 16 April 2031

Meminta Receh, Diberi Kaki

Di depan pintu gereja atau pasar, sering ada orang yang duduk meminta belas kasih. Kita lewat, kadang memberi recehan, kadang pura-pura tidak lihat. Yang diminta biasanya kecil, secukupnya untuk hari itu. Jarang ada pengemis yang berani meminta lebih dari sekadar bertahan sampai besok. Sebab yang lama menderita sering hanya berani berharap sedikit.

Seorang laki-laki lumpuh sejak lahir setiap hari diletakkan di depan Gerbang Indah Bait Allah. Namanya ironis, gerbang yang indah, sementara ia sendiri tidak pernah bisa masuk berjalan lewat gerbang itu. Ketika Petrus dan Yohanes lewat, ia meminta sedekah, seperti biasa. Ia menengadah, menunggu koin. Tetapi Petrus berkata, 'Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu. Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!'

Orang itu meminta receh untuk hari itu, dan diberi kaki untuk seumur hidup. Ia menengadah mengharap sedikit, dan menerima jauh lebih banyak daripada yang berani ia bayangkan. Ia melonjak, berdiri, berjalan, melompat-lompat, memuji Allah. Untuk pertama kalinya ia masuk ke Bait Allah bukan diusung, melainkan dengan kakinya sendiri.

Betapa sering doa kita mirip pengemis di Gerbang Indah. Kita meminta yang kecil-kecil, yang sekadar cukup untuk melewati hari. Kita takut meminta terlalu banyak, seakan Tuhan pun punya persediaan yang terbatas. Padahal Ia sering menjawab bukan menurut kecilnya permintaan kita, melainkan menurut besarnya kasih-Nya.

Namun ada juga hal yang perlu kita ingat dari kata Petrus. Yang ia berikan bukan emas dan perak, melainkan nama Yesus. Kadang justru ketika tangan kita kosong dari uang, kita punya sesuatu yang lebih berharga untuk diberikan, kehadiran, doa, nama Tuhan yang kita bawa kepada orang lain.

Ada juga yang mudah terlewat. Sesudah sembuh, orang itu tidak lari pulang membawa kegembiraannya sendirian. Ia mengikuti Petrus dan Yohanes masuk ke Bait Allah, berjalan dan melompat sambil memuji Allah. Mukjizat yang sejati selalu menuntun kepada pujian, bukan sekadar kelegaan. Yang disembuhkan tidak berhenti pada kakinya yang kuat, melainkan berlanjut pada hatinya yang bersyukur. Kesembuhan yang benar memang selalu berujung pada syukur.

Adakah kita terlalu takut meminta hal besar kepada Tuhan, atau terlalu cepat merasa tak punya apa-apa untuk diberikan kepada sesama?

Tuhan, luaskanlah harapanku ketika berdoa, dan ingatkan aku bahwa aku selalu punya nama-Mu untuk kubagikan. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →