‹ Semua renungan

Minggu, 23 Maret 2031

Anak Sulung yang di Luar

Hari Minggu keempat Prapaskah punya nama Latin yang indah: Laetare. Artinya, 'bergembiralah'. Di tengah masa pantang dan tobat, Gereja tiba-tiba mengajak tersenyum. Warna ungu yang muram boleh melunak sedikit menjadi merah muda. Seakan dari kejauhan sudah tercium bau pesta Paskah.

Injil hari ini memang bercerita tentang pesta. Anak bungsu yang hilang telah pulang, dan sang bapa menyembelih anak lembu tambun. Ada musik, ada tarian, ada sukacita. Tetapi kali ini mari kita perhatikan tokoh yang justru berdiri di luar, di kegelapan halaman: anak sulung.

Ia baru pulang dari ladang, mendengar bunyi seruling, lalu tahu adiknya kembali dan pesta digelar. Dan ia marah. Ia tidak mau masuk. Kalimatnya getir, 'Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing pun.'

Di sini kita bertemu dosa yang lebih halus daripada dosa si bungsu. Bukan dosa yang kabur ke negeri jauh, melainkan dosa yang tinggal di rumah tetapi hatinya jauh. Anak sulung melayani bertahun-tahun, tetapi ternyata ia merasa seperti buruh, bukan anak. Ia menghitung jasa, bukan menikmati kasih. Dan justru itu yang membuatnya tak bisa ikut bergembira.

Betapa banyak dari kita yang seperti anak sulung. Rajin ke gereja, taat aturan, tidak pernah kabur. Tetapi ketika Tuhan berbelas kasih kepada orang yang kita anggap tidak pantas, diam-diam kita tersinggung. Sukacita Bapa terasa tidak adil.

Bacaan Kedua memberi obatnya. 'Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu.' Rasul Paulus menyebut kita 'utusan pendamaian'. Kita diajak berhenti menghitung, dan mulai mendamaikan. Sebab Allah sendiri 'tidak memperhitungkan pelanggaran' kita.

Bacaan Pertama menutup dengan gambar yang lembut. Ketika bangsa Israel akhirnya makan hasil tanah Kanaan, manna pun berhenti turun. Masa pengembaraan usai, masa perjamuan dimulai. Selalu ada saat ketika Tuhan mengganti roti seadanya di gurun dengan hasil tanah yang berlimpah.

Laetare mengundang kita masuk ke dalam pesta, bukan berdiri di luar sambil menghitung jasa. Bapa keluar juga untuk anak sulung, sama seperti Ia berlari untuk si bungsu.

Sukacita Tuhan atas siapa yang diam-diam masih sulit kita terima?

Tuhan, jauhkan aku dari hati anak sulung yang menghitung. Jadikan aku ciptaan baru yang bisa ikut bergembira atas belas kasih-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →