Selasa, 18 Maret 2031
Sepuluh Ribu Talenta
Coba bandingkan dua angka. Yang pertama sepuluh ribu talenta. Yang kedua seratus dinar. Untuk merasakan bedanya: satu talenta setara dengan ribuan hari kerja, sedangkan satu dinar adalah upah sehari. Jarak keduanya bukan lagi selisih, melainkan jurang yang tak terjembatani.
Itulah yang dipakai Yesus untuk menjawab pertanyaan Petrus tentang mengampuni. Seorang hamba berutang sepuluh ribu talenta kepada rajanya. Utang yang mustahil dilunasi seumur hidup. Ia sujud memohon, dan raja itu, karena tergerak belas kasihan, menghapus seluruhnya. Bukan menunda, bukan mencicil. Menghapus.
Tetapi begitu keluar, hamba itu bertemu kawannya yang berutang seratus dinar. Ia mencekiknya, menuntut lunas, lalu memenjarakannya. Utang sehari, ditagih tanpa ampun, oleh orang yang baru saja dibebaskan dari utang seumur hidup.
Kita mudah menghakimi hamba itu. Padahal setiap kali kita menyimpan dendam untuk luka kecil, kita sedang mencekik kawan berutang seratus dinar, sambil lupa bahwa Tuhan telah menghapus sepuluh ribu talenta kita.
Pengampunan yang kita terima dan pengampunan yang kita berikan selalu terhubung. Bukan karena Tuhan pelit, melainkan karena hati yang tidak mau mengalirkan pengampunan sebenarnya belum sungguh menerimanya.
Utang seratus dinar milik siapa yang masih kita genggam erat hari ini?
Tuhan, Engkau menghapus utangku yang tak terbayar. Ajarilah aku melepaskan utang kecil yang kupegang pada sesama. Amin.