Rabu, 12 Maret 2031
Cawan atau Kursi
Setiap ibu ingin yang terbaik untuk anaknya. Maka ketika ibu anak-anak Zebedeus datang sujud kepada Yesus, kita bisa mengerti. Ia meminta dua kursi terbaik: satu di kanan, satu di kiri Yesus dalam Kerajaan-Nya. Permintaan seorang ibu yang mengasihi, tetapi salah alamat. Ia meminta tempat duduk, padahal Yesus sedang berjalan menuju salib.
Yesus tidak marah. Ia hanya membalik pertanyaannya. Bukan soal kursi, tetapi soal cawan. 'Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?' Cawan itu adalah penderitaan, salib yang menunggu di Yerusalem. Kursi kehormatan selalu diincar. Cawan penderitaan selalu dihindari. Tetapi di jalan Yesus, keduanya tak terpisah.
Yang menarik, percakapan ini terjadi tepat setelah Yesus untuk ketiga kalinya memberitahukan bahwa Ia akan diserahkan, diolok, dan disalibkan. Di tengah kabar salib itu, murid-murid malah sibuk memikirkan kursi. Betapa sering telinga kita begitu: mendengar salib, tetapi yang tertangkap hanya soal posisi.
Lalu Yesus memberi ukuran baru. 'Barangsiapa ingin menjadi besar, hendaklah ia menjadi pelayanmu.' Ia sendiri datang 'bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani'. Kebesaran diukur dari bawah, dari seberapa dalam kita mau membungkuk.
Kursi apa yang diam-diam sedang kita perebutkan hari ini?
Tuhan, ajarilah aku berhenti mengincar kursi dan berani menerima cawan-Mu. Amin.