Minggu, 25 Oktober 2026
Sebelum Matahari Terbenam
Kitab hukum biasanya dingin. Pasal-pasalnya bicara tentang larangan dan sanksi, bukan tentang perasaan. Karena itu bacaan pertama hari ini terasa aneh untuk ukuran kitab hukum. Di tengah pasal-pasal kuno kitab Keluaran, tiba-tiba muncul kalimat selembut ini: jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, kembalikanlah kepadanya sebelum matahari terbenam.
Kenapa harus sebelum matahari terbenam? Karena bagi orang miskin, jubah itu satu-satunya selimut. Malam di padang gurun itu dingin. Hukum ini seperti tahu rasanya menggigil. Allah yang menetapkannya ternyata memikirkan tidurnya seorang miskin.
Nada yang sama mengalir di seluruh bacaan itu: jangan menindas orang asing, sebab kamu pun dahulu orang asing di tanah Mesir. Jangan menindas janda dan anak yatim. Jika mereka berseru kepada-Ku, tentulah Aku mendengarkan. Allah memperkenalkan diri sebagai pihak yang berdiri di belakang orang-orang yang tidak punya pembela.
Dengan latar itu, jawaban Yesus dalam Injil menjadi lebih terang. Ditanya hukum mana yang terutama, Ia menyebut dua sekaligus: kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi; dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Lalu kalimat penutup yang berani: pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.
Tergantung. Seperti pintu yang tergantung pada engselnya. Ratusan aturan agama, kalau dilepaskan dari dua engsel ini, hanya jadi daun pintu yang tergeletak: berat, kaku, tidak bisa dilalui siapa-siapa. Ibadah yang tidak melahirkan kasih pada sesama adalah pintu yang copot dari engselnya.
Dua kasih itu memang tidak bisa dipisah. Mengasihi Allah yang tidak kelihatan dibuktikan lewat mengasihi manusia yang kelihatan. Dan urutannya juga tidak bisa dibalik: tanpa berakar pada Allah, kasih kepada sesama cepat lelah, pilih-pilih, dan minta pamrih.
Jemaat Tesalonika dalam bacaan kedua menunjukkan bahwa ini bukan teori. Mereka berbalik dari berhala kepada Allah yang hidup, dan kabar tentang iman mereka tersiar ke mana-mana tanpa mereka pasang pengumuman. Kasih yang sungguh dihidupi memang selalu terdengar sendiri.
Minggu ini kita bisa mulai dari ukuran kitab Keluaran yang sederhana itu: adakah orang yang menggigil karena sesuatu yang kita tahan? Upah yang ditunda, maaf yang belum diberikan, hak yang belum dikembalikan. Kembalikanlah sebelum matahari terbenam.
Tuhan, kasih-Mu sampai memikirkan selimut orang miskin. Jadikan kasihku nyata dan bergegas, jangan menunggu besok. Amin.