‹ Semua renungan

Minggu, 11 Oktober 2026

Kursi yang Kosong

Di kampung, undangan hajatan hampir tidak pernah ditolak. Orang bisa tidak akur dengan tetangganya, tetapi kalau diundang kenduri, ia datang. Kursi kosong di pesta adalah tamparan halus bagi tuan rumah. Itu sebabnya panitia selalu menghitung: berapa undangan disebar, berapa yang hadir.

Minggu lalu kita mendengar kisah kebun anggur yang penggarapnya membunuh utusan demi utusan. Hari ini Yesus melanjutkan dengan gambar yang lebih meriah tetapi sama pedihnya: seorang raja mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya, dan para undangan tidak mau datang. Hidangan sudah siap, lembu sudah disembelih. Jawaban mereka? Ada yang pergi ke ladang, ada yang mengurus usahanya. Tidak ada yang membenci raja. Mereka hanya merasa punya urusan yang lebih penting.

Mungkin di situlah kita paling sering berdiri. Kita jarang menolak Allah mentah-mentah. Kita hanya menunda-Nya. Nanti setelah anak lulus. Nanti setelah pensiun. Nanti kalau sudah tidak sibuk. Kursi di perjamuan itu tetap kosong, bukan karena kita melawan, tetapi karena kita merasa belum sempat.

Raja itu tidak membatalkan pesta. Ia menyuruh hambanya ke persimpangan jalan, mengundang siapa saja, orang jahat dan orang baik, sampai ruangan penuh. Inilah kabar baiknya: pesta Allah tidak pernah gagal. Yang bisa gagal hanyalah kita, kalau memilih absen.

Yesaya sudah lama memimpikan perjamuan ini: di gunung Sion Tuhan menyediakan bagi segala bangsa hidangan yang bergemuk dan anggur tua yang disaring endapannya. Bukan untuk satu suku. Segala bangsa. Dan di perjamuan itu Ia akan menghapuskan air mata dari segala muka serta meniadakan maut untuk seterusnya. Ini bukan sekadar makan-makan. Ini gambaran keselamatan.

Lalu apa arti tamu yang diusir karena tidak berpakaian pesta? Bukankah ia dipungut dari jalan? Justru karena semua diundang cuma-cuma, satu-satunya yang diminta adalah kesediaan berubah. Datang boleh apa adanya, tinggal jangan tetap apa adanya. Pakaian pesta itu hidup baru yang pantas bagi pesta.

Paulus, yang Minggu lalu berpesan supaya kita jangan kuatir tentang apa pun, kini menulis dari penjara tentang rasanya duduk di perjamuan itu dalam segala keadaan: aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Rahasianya satu kalimat yang sering kita hafal: segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Undangan sudah di tangan sejak kita dibaptis. Minggu ini, jangan biarkan kursi itu kosong.

Tuhan, terima kasih atas undangan-Mu yang tidak pernah Kaubatalkan. Berilah aku hati yang bergegas datang, dan hidup baru sebagai pakaian pestaku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →