Senin, 21 September 2026
Dua Patah Kata
Di mata orang Yahudi zaman itu, meja cukai adalah meja paling kotor di kota. Yang duduk di baliknya bekerja untuk penjajah, memungut pajak dari bangsanya sendiri, dan biasa melebihkan tagihan. Orang melewatinya sambil membuang muka.
Kepada orang di meja itulah Yesus berhenti dan berkata dua patah kata: Ikutlah Aku. Tidak ada ceramah, tidak ada syarat, tidak ada masa percobaan. Maka berdirilah Matius, lalu mengikut Dia. Meja, uang, dan seluruh kariernya ditinggalkan begitu saja.
Barangkali hanya satu kebiasaan lamanya yang terbawa: mencatat. Dulu tangannya mencatat setoran dan tagihan. Kemudian tangan yang sama mencatat sabda dan karya Gurunya. Dari meja cukai lahir sebuah Injil, yang dua ribu tahun kemudian masih kita baca.
Orang Farisi protes: mengapa gurumu makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa? Jawaban Yesus menjadi kabar baik bagi kita semua: bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.
Kalau meja cukai saja bisa menjadi pintu kerasulan, meja mana dalam hidup kita yang tidak bisa Ia datangi?
Tuhan Yesus, Engkau memanggilku apa adanya. Buatlah aku berani berdiri dan mengikut Engkau seperti Matius. Amin.