‹ Semua renungan

Sabtu, 19 September 2026

Perkara Biji

Genggamlah sebutir benih jagung yang kering. Keras, kisut, tampak seperti benda mati. Lalu petani menguburnya ke dalam tanah. Kulitnya pecah, bentuknya hancur, dan justru dari situ tunas hijau keluar. Kalau biji itu bisa merasa, mungkin ia mengira sedang binasa.

Dua bacaan hari ini sama-sama bicara tentang biji. Paulus memakainya untuk menjawab pertanyaan jemaat tentang kebangkitan: apa yang engkau taburkan tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Kematian bukan tembok akhir, melainkan tanah tempat hidup baru dimulai.

Yesus memakai biji untuk bicara tentang firman. Kemarin Lukas memperkenalkan rombongan yang menyertai Dia dari kota ke kota. Hari ini, kepada orang banyak yang berbondong-bondong itu, Ia bercerita tentang penabur. Benih yang sama ditabur ke mana-mana: ada yang jatuh di jalan yang keras, di batu yang dangkal, di tengah semak kekuatiran dan kekayaan, dan ada yang jatuh di tanah yang baik lalu berbuah seratus kali lipat.

Perhatikan: yang berbeda bukan benihnya. Yang berbeda tanahnya. Firman yang kita dengar sama dengan yang didengar para kudus. Pertanyaannya ada di tanah kita: keras, dangkal, penuh semak, atau gembur?

Tuhan, gemburkanlah tanah hatiku, supaya firman-Mu tidak sekadar mampir, tetapi berakar dan berbuah. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →