Rabu, 1 Juli 2026
Biarlah Mengalir
Air punya satu tabiat: ia harus mengalir. Selokan yang tersumbat hanya butuh beberapa hari untuk berubah bau. Airnya masih air. Tetapi karena berhenti, ia menjadi sarang penyakit.
Kemarin Amos menyuruh Israel bersiap bertemu dengan Allahnya. Hari ini kita mendengar apa yang membuat Allah gerah. Bukan sepinya ibadah. Ibadah justru ramai: nyanyian, gambus, kurban tambun, perayaan meriah. Namun Allah berkata, "Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu." Mengapa sekeras itu? Karena ibadah itu berhenti di ruang perayaan. Ia tidak mengalir keluar menjadi keadilan di pintu gerbang, di pasar, di ruang sidang. Ibadah yang tergenang, seperti air yang tergenang, lama-lama berbau.
Maka Allah menunjuk arah: "Biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." Bukan hujan sesaat. Sungai. Yang mengalir setiap hari, juga hari Senin, juga saat tidak ada yang menonton.
Injil menaruh cermin serupa. Baru kemarin Yesus meneduhkan danau; hari ini di seberangnya Ia membebaskan dua orang dari cengkeraman setan. Tetapi yang dihitung warga Gadara adalah kawanan babi yang hilang. Mereka mendesak Yesus pergi. Ibadah bisa ramai, hati bisa tetap memilih babi.
Hari ini, ke mana doa pagiku mengalir setelah kata amin?
Tuhan, jangan biarkan imanku tergenang. Alirkanlah ia menjadi keadilan bagi orang-orang di sekitarku. Amin.