Kamis, 21 Mei 2026
Didoakan Sebelum Kita Ada
Ada penghiburan aneh saat tahu seseorang mendoakan kita diam-diam. Nenek yang menyebut nama kita tiap malam, ibu yang berdoa sebelum kita berangkat. Kita tidak mendengarnya, tapi doa itu menyertai langkah kita.
Dalam doa terakhir sebelum sengsara, Yesus mengucapkan kalimat yang mudah terlewat: "Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka." Orang-orang itu adalah kita. Kita yang percaya karena kabar diteruskan turun-temurun. Ribuan tahun sebelum kita lahir, Yesus sudah mendoakan kita.
Dan apa isi doa-Nya bagi kita? Bukan supaya kaya, bukan supaya lancar. "Supaya mereka semua menjadi satu... agar dunia percaya." Ia berdoa agar kita bersatu. Sebab kesatuan orang percaya adalah bukti paling meyakinkan bahwa Ia sungguh diutus Bapa.
Ironisnya, dalam bacaan pertama Paulus berdiri di tengah Mahkamah yang terpecah, Farisi lawan Saduki, ribut soal kebangkitan. Perpecahan memang gampang, bahkan di antara orang beragama. Justru karena itu Yesus berdoa keras untuk kesatuan kita: Ia tahu betapa mudah kita retak.
Kalau hari ini kita tergoda memelihara permusuhan dengan sesama seiman, ingatlah: kita sedang merusak persis apa yang paling Ia doakan sebelum wafat.
Persatuan mana yang bisa kita jaga hari ini, demi doa yang telah Yesus panjatkan bagi kita?
Tuhan, Engkau mendoakanku jauh sebelum aku ada. Jadikanlah aku penjaga kesatuan, bukan perusaknya. Amin.