Kamis, 22 Agustus 2030
Santa Perawan Maria Ratu
Peringatan WajibBacaan Misa
Bacaan Pertama Wahyu 21:9b-14
Maka datanglah seorang dari ketujuh malaikat yang memegang ketujuh cawan, yang penuh dengan ketujuh malapetaka terakhir itu, lalu ia berkata kepadaku, katanya: "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari sorga, dari Allah. Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal. Dan temboknya besar lagi tinggi dan pintu gerbangnya dua belas buah; dan di atas pintu-pintu gerbang itu ada dua belas malaikat dan di atasnya tertulis nama kedua belas suku Israel. Di sebelah timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah utara tiga pintu gerbang dan di sebelah selatan tiga pintu gerbang dan di sebelah barat tiga pintu gerbang. Dan tembok kota itu mempunyai dua belas batu dasar dan di atasnya tertulis kedua belas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.
Mazmur Tanggapan Mazmur 145:10-13,17-18
Bacaan Injil Yohanes 1:45-51
Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."
Renungan
Dilihat di Bawah Pohon Ara
Ada rasa hangat ketika kita tahu seseorang memperhatikan kita jauh sebelum kita menyadarinya. Ibu yang diam-diam mengamati anaknya dari jendela. Seseorang yang ternyata sudah lama mendoakan kita tanpa kita tahu. Kita merasa, ternyata aku tidak sendirian selama ini.
Natanael mengalami itu. Ia tadinya sinis, 'Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?' Tetapi ketika bertemu Yesus, ia langsung luluh, karena Yesus berkata, 'Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.' Tempat yang teduh, tempat orang menyendiri dan berdoa. Yesus sudah melihatnya di saat paling pribadi itu, ketika tidak ada orang lain menyaksikan.
Itulah yang mengubah Natanael dari sinis menjadi percaya. Bukan argumen, melainkan kesadaran bahwa ia sudah dikenal sebelum ia mengenal. 'Rabi, Engkau Anak Allah.'
Kita sering mengira iman dimulai dari usaha kita mencari Tuhan. Padahal biasanya terbalik. Ia sudah lebih dulu memandang kita, di bawah pohon ara kita masing-masing, di saat tersembunyi yang kita kira tak diketahui siapa pun.
Hari ini Gereja mengenang Santa Perawan Maria sebagai Ratu. Ratu yang mahkotanya justru kerendahan hati, seperti kota kudus dalam Wahyu yang seluruh kemuliaannya datang dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.
Di bawah pohon ara mana Tuhan sedang memandangku, tanpa aku sadari?
Tuhan, Engkau melihatku di tempat paling tersembunyi. Buatlah kesadaran itu mengubah aku, seperti ia mengubah Natanael. Amin.
Invitatorium
KAMIS IV PAGI
Pembukaan
Ant. Marilah menghadap Tuhan dengan sukacita.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Marilah menghadap Tuhan dengan sukacita.
Ibadat Bacaan
MADAH
Ya Allah, penolong kami di masa lalu,
Ant. 1 Pujilah Tuhan, hai jiwaku; jangan pernah lupakan segala yang telah Ia lakukan bagimu.
Mazmur 103
Pujian atas belas kasihan Allah yang lembut
Dalam belas kasihan Allah kita yang lembut, fajar dari ketinggian akan menyinari kita (lihat Lukas 1:78).
Ant. Pujilah Tuhan, hai jiwaku; jangan pernah lupakan segala yang telah Ia lakukan bagimu.
Ant. 2 Seperti seorang bapa yang lembut terhadap anak-anaknya, demikianlah Tuhan terhadap orang-orang yang menghormati-Nya.
Ant. Seperti seorang bapa yang lembut terhadap anak-anaknya, demikianlah Tuhan terhadap orang-orang yang menghormati-Nya.
Ant. 3 Pujilah Tuhan, segala karya-Nya!
Ant. Pujilah Tuhan, segala karya-Nya!
BACAAN
RESPONSORIUM Ratapan 2:1
RESPONSORIUM Mazmur 31:20; 36:9
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan bersama)
Ibadat Pagi
Madah
Ant.1: Semoga aku mengalami kasih setiaMu di waktu fajar, ya Tuhan.
Mazmur 142 (143),1-11
Ant.1: Semoga aku mengalami kasih setiaMu di waktu fajar, ya Tuhan.
Ant.2: Tuhan mengalirkan kesejahteraan ke Yerusalem bagaikan sungai.
Yes 66,10-14a
Ant.2: Tuhan mengalirkan kesejahteraan ke Yerusalem bagaikan sungai.
Ant.3: Betapa indahnya memuji Allah kita.
Mazmur 146 (147A)
Ant.3: Betapa indahnya memuji Allah kita.
Ant.Kidung: Tanamkanlah pengertian akan keselamatan dalam umatMu, ya Tuhan, dan ampunilah dosa kami.
KIDUNG ZAKARIA (Luk 1,68-79)
Ant.Kidung: Tanamkanlah pengertian akan keselamatan dalam umatMu, ya Tuhan, dan ampunilah dosa kami.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
KAMIS IV SIANG
Madah
Ant.1: Jika kamu mengasihi Aku, laksanakanlah perintah-perintahKu, sabda Tuhan.
Mazmur 118 (119),153-160
Ant.1: Jika kamu mengasihi Aku, laksanakanlah perintah-perintahKu, sabda Tuhan.
Ant.2: Semoga Tuhan memberkati engkau dan memperkenankan engkau menikmati kemakmuran seumur hidup.
Mazmur 127 (128)
Ant.2: Semoga Tuhan memberkati engkau dan memperkenankan engkau menikmati kemakmuran seumur hidup.
Ant.3: Tuhan menyerang musuh-musuhmu untuk membela engkau.
Mazmur 128 (129)
Ant.3: Tuhan menyerang musuh-musuhmu untuk membela engkau.
Bacaan singkat (Keb 1,1-2)
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Sore
KAMIS IV SORE
Madah
Ant.1: Tuhanlah pengasih dan pembelaku, kepadaNya aku berharap.
Mazmur 143 (144) - I
Ant.1: Tuhanlah pengasih dan pembelaku, kepadaNya aku berharap.
Ant.2: Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah Tuhan.
Mazmur 143 (144) - II
Ant.2: Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah Tuhan.
Ant.3: Sekarang telah tiba keselamatan, kekuatan dan pemerintahan Allah kita.
Why 11,17-18;12,10-12
Ant.3: Sekarang telah tiba keselamatan, kekuatan dan pemerintahan Allah kita.
Bacaan singkat (lh. Kol 1,23)
Ant.Kidung: Tuhan memuaskan orang yang lapar akan keadilan dan melimpahi mereka dengan kebaikan.
KIDUNG MARIA (Luk 1,46-5)
Ant.Kidung: Tuhan memuaskan orang yang lapar akan keadilan dan melimpahi mereka dengan kebaikan.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - KAMIS
Doa Tobat
Madah
Ant: Tubuhku beristirahat dengan tenteram.
Mazmur 15 (16)
Ant.: Tubuhku beristirahat dengan tenteram.
Bacaan singkat (1Tes 5,23)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
Santa Perawan Maria Ratu
Peringatan Wajib Maria · Ditetapkan 1954
Peringatan ini merayakan Maria sebagai Ratu, yang dimuliakan bersama Putranya di dalam kemuliaan surgawi. Gereja mengimani bahwa martabat keratuan Maria bukan berasal dari kuasa duniawi, melainkan dari perannya sebagai Bunda Allah dan sebagai orang yang paling erat dipersatukan dengan karya penebusan Kristus Sang Raja.
Dasar penghormatan ini berakar dalam Kitab Suci. Malaikat Gabriel mewartakan bahwa Putra Maria akan menerima takhta Daud dan meraja selama-lamanya (Luk 1:32-33). Dalam Kitab Wahyu, Yohanes melihat seorang perempuan berselubungkan matahari dengan mahkota dua belas bintang (Why 12:1). Tradisi Gereja sejak awal menyapa Maria sebagai Regina, Ratu, terutama dalam doa Salve Regina.
Perayaan ini secara resmi ditetapkan oleh Paus Pius XII melalui ensiklik Ad Caeli Reginam pada 11 Oktober 1954, di tengah Tahun Maria yang menandai seabad dogma Maria Dikandung Tanpa Noda. Mula-mula pesta ini dirayakan pada 31 Mei, namun dalam pembaruan kalender liturgi tahun 1969 dipindahkan ke 22 Agustus, tepat delapan hari setelah Hari Raya Maria Diangkat ke Surga, untuk menampakkan hubungan erat antara pengangkatan dan pemahkotaan Maria.
Bagi umat, peringatan ini meneguhkan pengharapan: Maria yang telah dimahkotai adalah tanda dan janji kemuliaan yang disediakan bagi semua yang setia kepada Kristus.
Ditetapkan: oleh Paus Pius XII melalui ensiklik Ad Caeli Reginam, 11 Oktober 1954.
Santo Simforianus
Martir
Di kota Autun, Prancis pada masa penjajagan Romawi, setiap tahun biasanya diselenggarakan perarakan besar untuk menghormati dewi Cybele. Patung dewi itu diusung mengelilingi kota. Di antara khalayak ramai yang berdiri di sepanjang jalan kota untuk memberi hormat dan sujud-sembah kepada sang dewi yang lewat, ada juga seorang pemuda tak dikenal yang tetap berdiri tegak dengan sikap sinis. Ia tidak sudi memberikan sikap hormat dan sujud-sembah seperti yang dilakukan orang banyak itu. Sikapnya ini menimbulkan pertanyaan dan curiga dalam hati banyak orang. Tak lama kemudian, ia ditangkap dan dihadapkan ke pengadilan Prefek kota Autun. Atas pertanyaan Prefek, pemuda itu dengan tegas menjawab: “Namaku Simforianus. Aku seorang Kristen.”
Pada waktu itu jumlah orang Kristen sangat sedikit, sehingga tidaklah mengherankan kalau prefek itu tidak memahami maksud kata-kata Simforianus itu. Prefek yang mengira bahwa Simforianus belum mengetahui semua peraturan kaisar, menyuruh orang membacakan peraturan kaisar mengenai penyembahan kepada dewi Cybele. Seusai pembacaan itu, Simforianus dengan lantang berkata: “Semua perintah itu sudah aku tahu, tetapi aku harus lebih menaati perintah Tuhanku Yesus Kristus, Raja segala raja”, selanjutnya untuk menantang sang prefek, Simforianus berkata: “Berikan kepadaku sebuah palu, maka aku akan menghancrukan dewimu itu. Aku mau melihat apakah perbuatanku atas dewimu itu akan mengakibatkan malapetaka besar atas seluruh rakyat kota ini.”
Perkataan berani itu menyebabkan amarah hebat sang prefek. Simforianus segera dibelenggu, didera lalu kemudian dipenjarakan. Setelah beberapa hari mendekam di penjara, ia dikeluarkan dan digiring ke tempat pembunuhan. Penderitaan yang hebat yang ditimpakan atas dirinya membuat badannya lemah dan wajahnya pucat pasi. Namun Simforianus tetap girang dan tetap tegak berdiri. Ketika tiba di tempat pembunuhan itu, ibunya berseru: “Vita non tollitur sed mutatur!” yang artinya “Hidup tidak dicabut melainkan hanya diubah!”. Simforianus dibunuh dengan menggunakan pedang para algojo kafir. Ia kemudian dihormati sebagai seorang martir Kristus.