Minggu, 26 Mei 2030
Hari Minggu Paskah VI
Hari RayaBacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Bacaan Pertama Kisah Para Rasul 10:25-26,34-35,44-48
Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: "Bangunlah, aku hanya manusia saja." Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya. Ketika Petrus sedang berkata demikian, turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu. Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah. Lalu kata Petrus: "Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air, sedangkan mereka telah menerima Roh Kudus sama seperti kita?" Lalu ia menyuruh mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Kemudian mereka meminta Petrus, supaya ia tinggal beberapa hari lagi bersama-sama dengan mereka.
Mazmur Tanggapan Mazmur 98:1-4
Bacaan Kedua 1 Yohanes 4:7-10
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
Bacaan Injil Yohanes 15:9-17
"Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."
Renungan
Dipilih Lebih Dulu
Semua orang yang pernah menunggu dipilih masuk regu permainan waktu kecil tahu rasanya: berdiri berjajar, menunduk, berharap namanya disebut. Dipilih itu melegakan. Dipilih lebih dulu, sebelum sempat menunjukkan apa-apa, itu hampir tidak masuk akal.
Injil hari ini persis tentang hal yang hampir tidak masuk akal itu. 'Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.' Iman kita, kalau ditelusuri sampai ke hulunya, bukanlah lamaran kita yang diterima Allah, melainkan pilihan Allah yang mendahului segalanya. Yohanes menuliskan hukum arus itu dalam bacaan kedua: 'Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita.' Kasih selalu mengalir dari atas lebih dulu; bagian kita adalah meneruskannya.
Bacaan pertama memperlihatkan betapa lebih lebar pilihan Allah daripada dugaan manusia. Petrus masuk ke rumah Kornelius, perwira Romawi, orang luar menurut peta keagamaan waktu itu. Ketika Kornelius tersungkur menyembahnya, Petrus menegakkan dia: 'Bangunlah, aku hanya manusia saja.' Lalu, sementara Petrus masih berbicara, Roh Kudus turun ke atas seisi rumah itu. Mendahului baptisan, mendahului prosedur, mendahului persetujuan siapa pun. Petrus hanya bisa mengangkat tangan: 'Bolehkah orang mencegah untuk membaptis orang-orang ini dengan air?' Allah memilih lebih dulu, dan pilihan-Nya melompati pagar-pagar yang kita bangun.
Dipilih menjadi apa? Bukan menjadi hamba. 'Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat.' Hamba hanya menerima perintah; sahabat diberi tahu isi hati. Dan sahabat macam apa Dia? 'Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.' Ia mengucapkan kalimat itu beberapa jam sebelum membuktikannya.
Namun pilihan itu bukan piala untuk dipajang. 'Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.' Dipilih selalu berarti diutus. Dan seluruh perutusan itu diringkas dalam satu kalimat penutup: 'Kasihilah seorang akan yang lain.' Bukan saran yang boleh ditawar, melainkan perintah dari Sahabat yang sudah lebih dulu mati bagi kita.
Pekan ini, ingatlah satu hal setiap pagi: sebelum kita berbuat apa-apa, kita sudah dipilih dan dikasihi. Lalu edarkan pandangan: siapa di sekitar kita yang masih berdiri berjajar, menunggu ada yang menyebut namanya? Pilihlah dia lebih dulu, seperti kita pernah dipilih.
Tuhan, terima kasih karena Engkau memilihku lebih dulu. Jadikan aku sahabat yang meneruskan pilihan itu kepada mereka yang belum pernah dipilih siapa pun. Amin.
Invitatorium
MINGGU VI PAGI
Pembukaan
Ant. Tuhan sungguh bangkit, alleluya.
MAZMUR 94 (95)
Ant. Tuhan sungguh bangkit, alleluya.
Ibadat Bacaan
Ibadat Bacaan untuk Hari Minggu Paskah VI
MADAH
PSALMODI
Ant. 1 Alleluya, batu telah digulingkan dari pintu kubur, alleluya.
Mazmur 104
Madah kepada Allah Sang Pencipta
Berada dalam Kristus berarti menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Segala yang lama telah berlalu, kini semuanya dijadikan baru (2 Korintus 5:17).
Ant. Alleluya, batu telah digulingkan dari pintu kubur, alleluya.
Ant. 2 Alleluya, perempuan, siapa yang Engkau cari? Mengapa Engkau mencari yang hidup di antara orang mati? alleluya.
Ant. Alleluya, perempuan, siapa yang Engkau cari? Mengapa Engkau mencari yang hidup di antara orang mati? alleluya.
Ant. 3 Alleluya, jangan menangis, Maria: Tuhan telah bangkit dari antara orang mati, alleluya.
Ant. Alleluya, jangan menangis, Maria: Tuhan telah bangkit dari antara orang mati, alleluya.
BACAAN
RESPONSORIUM 1 Yohanes 1:2; 5:20
RESPONSORIUM Roma 5:11; Kolose 1:19-20
TE DEUM
DOA PENUTUP
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
MINGGU VI PAGI
Pembukaan
Ant. Tuhan sungguh bangkit, Alleluya.
Mazmur 94 (95)
Marilah kami bernyanyi bagi Tuhan,
bersorak-sorai bagi penyelamat kami.
Ant. Tuhan sungguh bangkit, Alleluya.
Madah
Ant.1: Pada hari inilah Tuhan bertindak, Alleluya.
Mazmur 117 (118)
Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik,*
kekal abadi kasih setia-Nya.
Ant.1: Pada hari inilah Tuhan bertindak, Alleluya.
Ant.2: Terpujilah Engkau di bentangan langit, kepada-Mulah pujian selama segala abad, ya Allah kami, Alleluya.
Ant.2: Terpujilah Engkau di bentangan langit, kepada-Mulah pujian selama segala abad, ya Allah kami, Alleluya.
Ant.3: Bersembahsujudlah di hadapan Allah yang duduk di atas takhta, dan berkatalah: Amin, Alleluya.
Mazmur 150
Pujilah Tuhan di tempat-Nya yang kudus,*
pujilah Dia di angkasa-Nya yang gemilang.
Ant.3: Bersembahsujudlah di hadapan Allah yang duduk di atas takhta, dan berkatalah: Amin, Alleluya.
Bacaan singkat (Kis 10:40-43)
Ant.Kidung: Seperti Bapa mengasihi Aku, demikian pula Aku mengasihi Engkau. Tinggallah dalam kasih-Ku, Alleluya.
Kidung Zakaria (Luk 1 : 68-79)
Terpujilah Tuhan, Allah Israel,*
sebab Ia mengunjungi dan membebaskan umat-Nya.
Ant.Kidung: Seperti Bapa mengasihi Aku, demikian pula Aku mengasihi Engkau. Tinggallah dalam kasih-Ku, Alleluya.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
MINGGU VI SIANG
Madah
Ant.1: Tuhan membaringkan daku di padang rumput yang hijau, Alleluya.
Mazmur 22 (23)
Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan,*
Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau.
Ant.1: Tuhan membaringkan daku di padang rumput yang hijau, Alleluya.
Ant.2: Di Israel nama Tuhan termasyhur, Alleluya.
Mazmur 75 (76)
Allah terkenal di Yehuda,*
di Israel nama-Nya termasyhur.
Ant.2: Di Israel nama Tuhan termasyhur, Alleluya.
Ant.3: Bumi takut dan tertegun, pada waktu Allah bangkit untuk mengadili, Alleluya.
Ant.3: Bumi takut dan tertegun, pada waktu Allah bangkit untuk mengadili, Alleluya.
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Madah
Doa Penutup
Ibadat Sore
MINGGU VI SORE I
Madah
Ant.1: Barang siapa berlaku benar datang kepada cahaya, Alleluya.
Mazmur 118 (119):105-112
Firman-Mu adalah pelita bagi langkahku,*
dan cahaya bagi jalanku.
Ant.1: Barang siapa berlaku benar datang kepada cahaya, Alleluya.
Ant.2: Setelah dilepaskan dari jerat maut, Tuhan bangkit, Alleluya.
Mazmur 15 (16)
Jagalah aku, ya Allah, sebab aku berlindung kepadamu,+
Aku mengakui: Engkaulah Tuhanku,*
Ant.2: Setelah dilepaskan dari jerat maut, Tuhan bangkit, Alleluya.
Ant.3: Bukankah Almasih harus menderita semuanya untuk mencapai kemuliaan-Nya? Alleluya.
Ant.3: Bukankah Almasih harus menderita semuanya untuk mencapai kemuliaan-Nya? Alleluya.
Bacaan singkat (1Ptr 2:9-10)
Ant.Kidung: Aku akan mohon kepada Bapa, maka Ia akan memberi Engkau Penolong yang lain, untuk mendampingi Engkau selalu, Alleluya.
Kidung Maria (Luk 1 : 46-55)
Aku mengagungkan Tuhan,*
hatiku bersukaria karena Allah, penyelamatku.
Ant.Kidung: Aku akan mohon kepada Bapa, maka Ia akan memberi Engkau Penolong yang lain, untuk mendampingi Engkau selalu, Alleluya.
Doa Permohonan
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
IBADAT PENUTUP - MINGGU II
Doa Tobat
Madah
Ant: Tuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Mazmur 90 (91)
Ant.: Tuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Bacaan singkat (Why 22,4-5)
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon:
Ant.Kidung: Berkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santo-Santa
S. Filipus Neri
Imam, Pendiri Kongregasi Oratorian · 1515-1595
Filipus Neri lahir pada tanggal 22 Juli 1515 di Firenze, Italia, dari keluarga bangsawan yang hidup sederhana. Sejak kecil ia dikenal ceria dan ramah, sampai dijuluki 'si Filipus baik hati'. Sebagai pemuda ia meninggalkan peluang usaha yang menjanjikan dan pergi ke Roma, kota yang saat itu rohnya sedang lesu. Di sana ia hidup sederhana sebagai pengajar sambil menghabiskan malam berdoa di katakombe.
Filipus tidak berkhotbah dengan nada mengancam, melainkan menarik orang dengan kegembiraan dan humor. Ia menyapa orang di jalan, di pasar, dan di toko, lalu mengajak mereka berdoa dan berbuat kasih. Pada tahun 1551 ia ditahbiskan menjadi imam. Ia mengumpulkan kaum muda untuk berdoa, membaca Kitab Suci, bernyanyi, dan berdiskusi di sebuah ruang doa kecil yang disebut oratory. Dari kebiasaan inilah lahir Kongregasi Oratorian yang disahkan pada tahun 1575.
Ia terkenal karena sukacitanya yang menular dan kerendahan hatinya yang jenaka; ia sering melakukan hal-hal lucu justru agar tidak dipuji sebagai orang suci. Umat mengenangnya sebagai bapa rohani yang penuh belas kasih di kamar pengakuan. Ia wafat pada tanggal 26 Mei 1595 dalam usia delapan puluh tahun. Paus menyebutnya Rasul kota Roma yang kedua setelah Santo Petrus. Ia dikanonisasi pada tahun 1622.
Pelindung: kaum muda, para pelawak Kristiani, dan kota Roma.
Santa Mariana dari Quito
Pengaku Iman
Mariana de Paredes Y. Flores yang dijuluki “Bunga lily dari Quito” lahir di Quito, Ekuador pada tahun 1618. Ayahnya seorang bangsawan kaya raya Spanyol. Tetapi sayang sekali bahwa semenjak kecilnya, Mariana sudah ditinggal mati kedua orangtuanya. Hidupnya ditanggung oleh seorang kakaknya perempuan yang sudah berumah tangga.
Meski hidup sebagai anak yatim-piatu, Mariana memiliki suatu keistimewaan adikodrati. Semenjak kecilnya, ia sudah menaruh minat besar pada hal-hal kerohanian dan kehidupan bakti kepada Tuhan. Ia rajin sekali berdoa dan mengikuti perayaan Misa Kudus. Sebelum batas waktu untuk menerima Komuni Suci seperti yang ditentukan aturan Gereja, ia sudah diperkenankan oleh pastor paroki untuk menerima Komuni Suci. Ketika berusia 12 tahun, ia mengatakan kepada kakaknya niatnya untuk membentuk sebuah perkumpulan untuk mempertobatkan bangsa Jepang yang masih kafir. Niat luhur ini gagal. Sebagai gantinya, ia berniat lagi menjalani hidup bertapa di daerah pegunungan dekat Quito. Niat ini pun gagal lagi. Kawan-kawannya mendesak ia masuk biara. Namun semuanya ini selalu saja menemui jalan buntu.
Menyaksikan semua kegagalan ini, ia mulai menyadari bahwa Tuhan mempunyai suatu rencana lain atas dirinya. Tuhan lebih menghendaki agar dia tetap tinggal di rumah kakaknya sambil menjalani hidup menyendiri dalam kemiskinan, matiraga dan doa-doa. Untuk itu dengan bantuan kakaknya, ia membangun sebuah gubuk sederhana guna melaksanakan rencana Tuhan itu di bawah bimbingan seorang Yesuit sebagai pembimbing rohani dan bapa pengakuan. Dia tidak pergi kemana-mana kecuali ke Gereja untuk berdoa dan merayakan Misa Kudus.
Matiraganya sangat luar biasa. Hal ini mengkhawatirkan banyak orang di sekitarnya, bahkan membuat mereka bertanya-tanya “Mengapa Bapa Pengakuannya membiarkan gadis remaja ini menjalani hidup sekeras itu?” Setiap hari Jumat malam, ia berbaring di dalam sebuah peti mayat seperti layaknya seorang yang benar-benar mati. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai. Sementara itu, waktu tidurnya dalam sehari hanya tiga jam saja. Sisa waktunya dipakai untuk melakukan latihan rohani. Cara hidup ini memang aneh di mata kakaknya. Tetapi justru itulah kehendak dan rencana Allah atas dirinya. Sebagai pahalanya, Tuhan mengaruniakan kepadanya kemampuan meramal dan membuat mukjizat.
Pada tahun 1645, kota Quito digetarkan oleh gempa bumi yang dahsyat disertai wabah penyakit menular yang ganas. Menghadapi bencana ini, timbullah tekad dalam dirinya untuk mengorbankan diri sebagai tebusan bagi dosa-dosa penduduk kota Quito. Tekad ini disampaikannya secara tegas kepada Tuhan. Gempa dasyat itu berhenti, demikian pula wabah penyakit menular itu. Sebagai gantinya, Mariana sendiri jatuh sakit dengan komplikasi berat sampai akhirnya meninggal dunia pada tanggal 26 Mei 1645 dalam usianya 25 tahun. Segenap penduduk kota Quito yang selamat dari bahaya maut itu sangat sedih karena kematian Mariana. Mereka menyebut dia ‘Bunga Lili dari Quito’ karena kesalehan hidupnya di tengah-tengah penduduk kota yang buruk kelakukannya. Ia digelari ‘Kudus’ pada tahun 1950.
Santo Philipus Neri
Pengaku Iman
Riwayat hidup Philipus Neri ini menggembirakan karena sifat dan kepribadiannya yang menarik. Pippo Buono, yang berarti Pippo yang baik adalah nama panggilan Philipus semasa kecilnya. Ia lahir di Florence dari sebuah keluarga Notaris. Ia mendapat pendidikan yang baik terutama dalam sastra latin.
Pada tahun 1534 ia tiba di Roma. Ia bermaksud melanjutkan perjalanannya ke India tetapi Allah memilihnya menjadi Rasul di kota Abadi itu. Philipus yang pada saat itu masih berstatus awam memberikan pengajaran kepada beberapa orang anak untuk memperoleh sedikit biaya hidup. Karyanya ini membuat banyak orang mengenal dia terutama di kalangan para pemuda. Banyak pemuda diundangnya ke rumahnya. Disana mereka berdiskusi, menyanyi, berdoa, dan kadang-kadang berlatih pidato singkat mengenai sesuatu pokok masalah tertentu. Pada mulanya tidak terlintas keinginan untuk membentuk suatu perkumpulan tetap. Tetapi kemudian mereka berkeputusan untuk membentuk suatu perkumpulan di bawah perlindungan Suci Bunda Maria. Mereka hidup bersama dalam satu rumah tanpa mengikrarkan kaul-kaul.
Setelah Philipus Neri ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1551, perkumpulan ini berkembang meluas ke seluruh Roma. Philipus terus meningkatkan perlayanan kepada pemuda-pemuda itu. Kini ia menuntut agar para muridnya benar-benar menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Ia tidak mengharapkan banyak dari para muridnya, kecuali kerendahan hatinya kepada Tuhan saja. Meskipun demikian perkumpulannya tidak terlalu keras.
Philipus Neri bukanlah seorang pemulih ketertiban, bukan juga seorang Teolog kenamaan atau seorang politikus. Ia, orang biasa, tetapi hidupnya merupakan rentetan mukzijat yang tidak henti-hentinya. Tidaklah jarang ia mengalami ekstase. Ia dapat membaca suasana batin orang lain dan mengenal rahasia-rahasia pribadi orang. Ia dapat meramalkan masa depan seseorang dan apa yang akan terjadi atas dirinya. Untuk menyembuhkan orang dari sakitnya, cukuplah ia menyentuh orang itu. Demikian juga semua orang yang gelisah dan susah hatinya karena berbagai masalah.
Beliau tetap riang-gembira, jujur, ramah kepada setiap orang. Ia memberi semangat dan harapan kepada orang-orang di sekelilingnya dengan kepercayaan, cinta kasih dan kegembiraannya, sehingga banyak orang terhibur karenanya. Setiap hari di tempat pengakuannya dikerumuni oleh orang banyak, bahkan kardinal-kardinal pun datang meminta nasehat dan bimbingan.
Ia dijuluki ‘Pelopor Anti Reformasi’. Pada tanggal 26 Mei 1595 Philipus Neri meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Ia dihormati gereja sebagai Rasul kota Roma.